Headlines News :
"JIHAD Menegakkan TAUHID, Membela Sunnah RASUL ALLAH, Hancurkan SYIRIK, Musnahkan BID'AH, Terapkan SYARI'AT ALLAH, Berantas KEMUNGKARAN dan KEMAKSIATAN," Tegaknya AGAMA ini haruslah dengan Kitab (AL QUR'AN DAN SUNNAH) Sebagai Petunjuk dan Sebagai Penolong. Kitab menjelaskan apa-apa yang diperintahkan dan apa-apa yang dilarang ALLAH, Pedang atau Pena menolong dan membelanya ".(Nasehat Berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahumullah)

Widget by KaraokeBatak
Home » , , , » Benarkah Suara Siksa Kubur Dr. Dmitri Azzacov Itu Asli?

Benarkah Suara Siksa Kubur Dr. Dmitri Azzacov Itu Asli?

Written By Dedi E Kusmayadi on 30 April, 2013 | Selasa, April 30, 2013


Banyak situs (websites) yang menulis artikel mengenai Dr Dmitri Azzacov yang merupakan seorang geolog. di Siberia, karena beredar youtube ataupun kaset VCD bajakan. dia menggali sampai kedalaman 14,4 km dan menemukan suara-suara orang yang kemudian dianalisis dan disimpulkan itu adalah suara dari neraka atau siksa kubur. Banyak tanggapan mengenai fenomena ini, ada yang percaya dan ada yang tidak. Sedangkan aku sendiri mempunyai pemahaman lain sebagai berikut.

Adakah yang tahu kemana perginya suara?. Seorang teman berbicara denganku dari jarak 3 meter, tetapi jika dari jarak 100 meter tak terdengar. Sebuah gunung yang meletus suaranya terdengar sampai 10 km, tetapi dari jarak 20 km tak terdengar. Apakah berarti suara yang melebihi 100 m atau 20 km diatas menjadi tak ada suara (suara hilang)?.

Atau jika kita mengeluarkan suara misalnya “Apa” maka orang yang didekatnya akan mendengar suara itu sebagai “Apa”. Setelah itu tak terdengar lagi. Apakah berarti suaranya hilang?.

Secara materi suara masih tetap ada. Buktinya adalah jika anda bicara pada sebuah tebing atau tanah berlembah maka akan terjadi “Gema”. Suara anda akan bergema. Ini menandakan bahwa suara masih akan terdengar jika ada media yang memantulkannya. Jadi selama ada bidang pantul yang mempunyai kekuatan pantul sama dengan kekuatan awal suara maka suara akan tetap terdengar.

Selain itu aku meyakini bahwa suara yang telah kita keluarkan akan tersimpan pada media tertentu. Seperti halnya sebuah CD perekam suara. Suara bersifat alami, maka tempat menyimpannya dan bagaimana cara merekam pasti juga alami dan atas kuasa Allah tentunya.

Apakah suara yang hilang tersimpan dalam partikel udara?. Bagaimana jika media tempat penyimpan terbaik itu bumi itu sendiri?. Sebagaimana firman Allah :

[QS 99:4] pada hari itu (kebangkitan) bumi menceritakan beritanya,

Lalu bagaimana cara bumi menyimpan data?  Kita tentu tahu bahwa bumi itu mempunyai gaya gravitasi dan medan magnet serta listrik, yang berhubungan dengan gelombang energi/listrik dll. Kita hidup diatas bumi itu sebenarnya menyatu dengan berbagai medan magnet, yang mana berhubungan juga dengan pusatnya yaitu bumi. Ibarat kamera, maka kehidupan dunia adalah obyek yang sedang di bidik di depan kamera (bumi)

Jadi bisa saja jika memang benar terekam suara-suara dari dalam bumi, itu adalah suara-suara manusia masa lalu yang terekam oleh bumi?. Soal jeritan yang terdengar, itu bisa dijelaskan bahwa semakin tinggi suara yang dikeluarkan (jeritan/teriakan) maka lebih meresap dalam partikel penyimpan sehingga lebih terdengar.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, jika Dr Azzacov menggali sedalam 14,4 km di tempat lain misalnya di Indonesia apakah akan menemukan suara itu juga? Jika tidak mengapa hanya di Siberia? Ada apa dengan Siberia? Apa karena kondisi geologinya yang memungkinkan?.

Lubang di Siberia

Gambar diatas merupakan gambar yang dimaksud. Yaitu lubang di Siberia. Apakah mungkin lubang itu berfungsi bagai Earphone alam. Yang menangkap gelombang suara yang tersimpan di udara dan memperdengarkannya?. Atau bumi sendiri yang mengeluarkan simpanan suara?.

Kesimpulan : Itu bukan suara siksa kubur, tapi suara masa lalu yang terekam. Itu hanya sedikit dari rahasia bumi.

Artikel ini hanya dasar saja, berhubung aku bukanlah ahli geologi atau fisika. Biarlah para ahli tersebut yang lebih menyempurnakan pemikiranku ini jika ada kebenarannya.

Apakah Dr. Dmitri Azzacov Seorang Muslim?

Sebagai komunis, saya tidak percaya surga atau Alkitab, tetapi sebagai ilmuwan saya sekarang percaya di neraka, kata Dr Azzacove atau Azzacov: "Tak perlu dikatakan kami terkejut untuk membuat penemuan seperti itu, tetapi kita tahu apa yang kita lihat dan dengar dan Kami benar-benar yakin bahwa kita dibor melalui gerbang neraka. " Bor itu tiba-tiba mulai terlepas dari kontrol, menunjukkan bahwa kita telah mencapai saku atau gua kosong yang besar. Sensor suhu menunjukkan peningkatan dramatis dalam panas 2.000 derajat Fahrenheit. Kami menurunkan mikrofon yang dirancang untuk mendeteksi suara gerakan lempeng bawah poros. Tapi bukannya gerakan lempeng kami mendengar suara manusia menjerit kesakitan. Pada awalnya kita pikir suara itu berasal dari peralatan kami sendiri, tetapi ketika kita membuat penyesuaian kecurigaan kita yang jahat dikonfirmasi. Jeritan itu bukan orang-orang dari manusia tunggal, mereka adalah jeritan jutaan manusia ...! "

Sejarah

Terjadi di Siberia, pada tahun 1989, di suatu tempat yang tidak ditentukan, yang tidak disebutkan namanya. Sebenarnya, kita tidak tahu apa yang mereka cari ahli geologi ini. Mereka menggunakan bor yang kuat dan tiba-tiba, pada 14.000 meter bor berputar tak terkendali bebas. Ahli geologi diyakini telah menemukan lubang atau saku di pusat bumi. Seperti Dr sebenarnya kata Azzacov, suhu pada kedalaman ini itu 2000 derajat (1.093 derajat Celsius).

Diperkenalkan dalam lubang mikrofon kuat khusus disiapkan untuk misi ini, tidak menemukan neraka, tetapi untuk mendengar suara dari gerakan lempeng tektonik. Para ilmuwan kagum dengan suara aneh direkam. Dan ketika menganalisis kaset, mendengar jeritan mengerikan. Mereka berpendapat bahwa semakin kita mendalami studi kaset tersebut bisa menafsirkan sebagai yang tak terkatakan erangan, ratapan dan jiwa terkutuk yang dicampakkan ke dalam neraka, meminta air dan belas kasihan.

"Kita tahu Firman Allah, orang yang tidak mengkonversi, yang tidak memberikan Yesus benar-benar akan dilemparkan ke neraka setelah penghakiman dan lautan api. Kita juga tahu bahwa akan ada tangisan dan kertak gigi," Kata Dr Azzacov.  mengutip permohonan belas kasihan dan air mengingatkan kita bagian dari orang kaya dan Lazarus, orang kaya juga meminta air ketika ia berada di neraka! Jika kita harus menjelaskan mengapa mereka meminta air, kita dapat menegaskan bahwa Alkitab memperingatkan bahwa mereka jahat akan dilemparkan ke dalam neraka sadar mengingat semua yang mendengar tentang Yesus sebelum ia meninggal, dan khotbah dan masing-masing dewan juga akan mencari hal-hal isu seperti air. 


Kebenaran dikembalikan kepada Allah. Hanya Allah yang tahu yang sesungguhnya



Hikmah Buat Kita Sebagai Muslim

Namun sebagai muslim saya percaya akan adanya azab Qubur sebagaimana Nabiullah Muhammad s.aw bersabda : 


مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa yang mengomentari Al Quran dengan tanpa ilmu maka disediakan baginya kursi di neraka.” (HR. At Tirmidzi No. 2950, katanya: hasan shahih)

Allah  mengabarkan bahwa Dia akan mengokohkan hamba-hamba-Nya yang mukmin, yaitu mereka yang tegak dengan keimanan hati yang sempurna, yang membuahkan amalan-amalan tubuhnya, sehingga Allah mengokohkannya dalam kehidupan dunia tatkala munculnya berbagai syubhat dengan senantiasa terbimbing kepada keyakinan. Begitu pula tatkala munculnya syahwat, Allah  kokohkan dengan tekad yang kuat untuk lebih mengedepankan apa yang dicintai Allah  di atas hawa nafsu dan segala kehendaknya. Adapun di akhirat, ketika dia menemui kematian, dia diberi kekokohan di atas agama Islam dan akhir kehidupan yang baik. Di alam kubur adalah tatkala ditanya oleh dua malaikat, (Allah kokohkan) dengan jawaban yang benar. Jika seorang yang telah mati ditanya: “Siapa Rabb-mu?”, “Apa agamamu?”, dan “Siapakah nabimu?”, maka (Allah ) membimbingnya dengan jawaban yang benar di mana seorang mukmin menjawab: “Allah Rabb-ku”, “Islam agamaku”, dan “Muhammad nabiku.” Allah juga menyesatkan orang-orang zalim yang menyimpang dari kebenaran

di dunia dan di akhirat. Dan Allah tidaklah menzalimi mereka, namun merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.

Ayat ini menunjukkan adanya fitnah (ujian) di alam kubur, siksaan dan kenikmatannya, sebagaimana yang terdapat dalam nash-nash yang mutawatir dari Nabi tentang fitnah tersebut, sifatnya, kenikmatan dan siksaannya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman)

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Nabi bahwa beliau membaca ayat ini lalu bersabda:


نَزَلَتْ فِي عَذَابِ الْقَبْرِ، فَيُقَالُ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ وَنَبِيِّ مُحَمَّدٌ n؛ فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ {ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷﭸ}

“(Ayat ini) turun berkenaan tentang siksaan kubur. Dikatakan kepadanya: ‘Siapakah rabb-mu?’ Maka dia menjawab: ‘Rabb-ku adalah Allah, nabiku Muhammad n.’ Maka itulah yang dimaksud dengan firman-Nya :


ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷﭸ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim: 2871)

Juga diriwayatkan dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri, beliau berkata: Kami pernah bersama Rasulullah n dalam (mengurusi) jenazah, lalu beliau bersabda:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا، فَإِذَا الْإِنْسَانُ دُفِنَ وَتَفَرَّقَ عَنْهُ أَصْحَابُهُ، جَاءَهُ مَلَكٌ بِيَدِهِ مِطْرَاقٌ فَأَقْعَدَهُ فَقَالَ: مَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلُ؟ فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. فَيَقُولُ لَهُ: صَدَقْتَ. فَيُفْتَحُ لَهَ بَابٌ إِلَى النَّارِ فَيُقَالُ: هَذَا مَنْزِلُكَ لَوْ كَفَرْتَ بِرَبِّكَ، فَأَمَّا إِذْ آمَنْتَ بِهِ، فَإِنَّ اللهَ أَبْدَلَكَ بِهِ هَذَا. ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ، فَيُرِيدُ أَنْ يَنْهَضَ لَهُ، فَيُقَالُ لَهُ: اسْكُنْ. ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ. وَأَمَّا الْكَافِرُ أَوِ الْمُنَافِقُ فَيُقَالُ لَهُ: مَا تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلُ؟ فَيَقُولُ: مَا أَدْرِي! فَيُقَالُ لَهُ: لاَ دَرَيْتَ وَلَا تَدَرَّيتَ وَلَا اهْتَدَيْتَ! ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ: هَذَا كَانَ مَنْزِلُكَ لَوْ آمَنْتَ بِرَبِّكَ، فَأَمَّا إذْ كَفَرْتَ، فَإِنَّ اللهَ أَبْدَلَكَ هَذَا. ثُمَّ يُفْتَحُ لَهُ بَابٌ إِلَى النَّارِ، ثُمَّ يَقْمَعُهُ الْمَلَكُ بِالْمِطْرَاقِ قَمْعَةً يَسْمَعُهُ خَلْقُ اللهِ كُلُّهُمْ إِلاَّ الثَّقَلَيْنِ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya umat ini akan diuji dalam kuburnya. Jika seseorang telah dikuburkan dan para pelayatnya telah meninggalkannya, maka dia didatangi oleh malaikat yang di tangannya ada palu, lalu mendudukkannya dan bertanya: ‘Apa pendapatmu tentang orang ini (maksudnya Muhammad n, pen.)?’ Jika dia seorang mukmin maka dia mengatakan: ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah l semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad  adalah hamba dan Rasul-Nya.’ Maka malaikat itu berkata kepadanya: ‘Engkau benar.’ Maka dibukakan baginya pintu menuju neraka, lalu dikatakan kepadanya: ‘Ini tempatmu jika sekiranya engkau kafir kepada rabb-mu. Adapun jika engkau beriman kepada-Nya, maka sesungguhnya Allah telah menggantikanmu dengan yang ini’, lalu dibukakan baginya pintu menuju surga. Maka dia pun ingin segera beranjak ke sana, maka dikatakan kepadanya: ‘Diamlah,’ lalu diluaskan kuburannya. Adapun orang yang kafir atau munafik maka dikatakan kepadanya: ‘Apa pendapatmu tentang orang ini?’ Maka dia menjawab: ‘Aku tidak tahu!’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Kamu tidak tahu dan tidak berusaha untuk mengetahui serta tidak mendapatkan hidayah!’ Lalu dibukakan baginya pintu menuju surga lalu dikatakan kepadanya: ‘Ini tempatmu jika sekiranya engkau beriman kepada Rabb-mu. Adapun di saat engkau kafir kepadanya, maka Allah menggantinya dengan yang ini, lalu dibukakan baginya pintu menuju neraka.’ Lalu malaikat itu memukulnya dengan palu dengan pukulan yang didengar oleh seluruh makhluk Allah kecuali jin dan manusia.”

Sebagian sahabat bertanya kepada beliau n: “Wahai Rasulullah, apakah setiap kami yang jika malaikat yang di tangannya ada palu berdiri di sisi kepalanya akan dipukulkan ketika itu?” Maka Rasulullah  menjawab dengan menyebut firman Allah :

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 27) (HR. Ath-Thabari, 16/592, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, 2/417, dishahihkan Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 3394)

Ayat-ayat dan hadits-hadits mutawatir yang datang dari berbagai jalur menetapkan adanya ujian di alam kubur. Oleh karena itu, perkara ini merupakan hal yang menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tidak ada yang menyelisihinya kecuali dari kalangan ahli bid’ah yang sesat.

Abu Ja’far Ath-Thahawi  menyebutkan dalam Aqidah Ahlus Sunnah :



وَبِعَذَابِ الْقَبْرِ لِمَنْ كَانَ لَهُ أَهْلًا


“Dan (beriman) dengan adanya siksaan kubur bagi orang yang berhak merasakannya.” (Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah)

Ibnu Abil ‘Izz t menegaskan: “Telah datang berita-berita yang mutawatir dari Rasulullah n tentang kebenaran adanya siksaan kubur dan kenikmatannya bagi yang berhak mendapatkannya. Demikian pula pertanyaan dua malaikat. Maka wajib meyakini benarnya hal tersebut dan mengimaninya, serta kita tidak membicarakan tentang bagaimananya. Sebab akal tidak mampu menjangkau bagaimana terjadinya, karena tidak ada hubungannya dengan kehidupan di dunia ini. Syariat tidaklah datang dengan sesuatu yang tidak diterima akal, namun datang dengan sesuatu yang mengherankan akal. Sebab, kembalinya ruh ke jasadnya tidak seperti apa yang diketahui di dunia, namun dikembalikan ruh tersebut ke jasad tidak seperti pengembaliannya ketika di dunia.” (Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah, Ibnu Abil Izz, tahqiq Abdullah bin Abdil Muhsin At-Turki dan Al-Arna’uth, 2/578)


Aqidah Batil Ahli Bid’ah

Ayat Allah k merupakan satu di antara sekian banyak ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an yang membantah keyakinan ahli bid’ah dari kalangan Mu’tazilah dan neo-Mu’tazilah dari firqah Hizbut Tahrir yang mengingkari adanya siksaan dan kenikmatan di alam kubur/barzakh bagi mereka yang berhak merasakannya. Mereka memiliki sejumlah syubhat untuk mengingkari hal ini.

Di antara syubhat yang mereka1 sebutkan adalah tentang ayat yang menjadi topik bahasan kita. Mereka menyebutkan bahwa ayat ini terdapat dalam surah Ibrahim yang merupakan surah Makkiyyah, sementara Rasulullah n tidak mengetahui siksa kubur kecuali setelah beliau berada di Madinah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Ahmad t dalam Musnad-nya (6/81), dari Aisyah  bahwa seorang wanita Yahudi pernah membantunya, dan setiap kali Aisyah  melakukan satu kebaikan kepadanya maka wanita Yahudi ini mengatakan kepadanya: “Semoga Allah melindungimu dari siksa kubur.” Lalu Rasulullah  menemuiku dan aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di alam kubur ada siksaan sebelum hari kiamat?” Beliau menjawab: “Tidak. Ada apa?” Aisyah pun berkata: “Wanita Yahudi ini, tidaklah kami melakukan satu kebaikan kepadanya melainkan dia berkata: ‘Semoga Allah melindungimu dari siksaan kubur’.” Beliau menjawab: “Dusta orang-orang Yahudi. Mereka para pendusta atas nama Allah. Tidak ada siksaan sebelum hari kiamat.” Lalu beberapa saat setelah itu, beliau keluar pada siang hari sambil menyelimuti dengan pakaiannya dengan mata yang memerah, sambil dia berteriak dengan suaranya yang paling keras: “Wahai sekalian manusia, fitnah menyelimuti kalian seperti potongan malam yang hitam. Wahai sekalian manusia, sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, kalian pasti banyak menangis dan sedikit tertawa. Wahai sekalian manusia, berlindunglah kepada Allah dari siksaan kubur, karena sesungguhnya siksaan kubur itu adalah benar.” (Hadits yang semakna dengannya diriwayatkan Al-Imam Muslim   dalam Shahih-nya no. 584)

Demikian pula firman Allah :

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” (Ghafir: 46)

Yang mana ayat ini juga merupakan ayat Makkiyyah. Karena kedua ayat ini Makkiyyah, sementara Rasulullah n mengetahui adanya siksaan kubur setelah berada di Madinah, maka ini menunjukkan bahwa kedua ayat tersebut bukan dalil tentang adanya siksaan kubur. Demikian syubhat mereka.

Syubhat ini telah dijawab oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Beliau berkata :

“Jawabannya adalah bahwa siksaan kubur dari ayat pertama diambil secara mafhum bagi orang yang tidak memiliki iman. Demikian pula secara manthuq (penunjukan secara nash) pada ayat yang kedua terhadap para pengikut Fir’aun, dan termasuk pula yang sama hukumnya dengan mereka dari kalangan orang-orang kafir. Maka yang diingkari oleh Nabi n adalah terjadinya siksaan kubur bagi ahli tauhid (kaum mukminin). Kemudian Nabi n diberitakan kepadanya bahwa hal itu bisa saja terjadi bagi siapa yang dikehendaki Allah k dari mereka, sehingga beliau pun memastikan dan memperingatkan darinya, serta bersungguh-sungguh dalam memohon perlindungan darinya sebagai bentuk pelajaran dan bimbingan kepada umatnya. Maka tidak ada kontradiksi. Walhamdulillah.” (Fathul Bari, 3/279. Lihat pula yang semakna dengan ini dalam ‘Umdatul Qari, 8/203)

Ada pula yang berkata dalam mengomentari ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar ini dengan mengatakan: “Apakah mungkin bagi Rasulullah n menyampaikan sesuatu berita tanpa ilmu pengetahuan? Apakah mungkin bagi Rasulullah n salah dalam tablighnya?”2

Maka jawaban kami adalah :

Kelihatannya, orang yang mengkritik (pernyataan) Al-Hafizh tersebut tidak memahami/berpura-pura untuk tidak memahami ucapan beliau. Sebab jika dia memahaminya dengan baik maka pertanyaan seperti ini tidak mungkin diutarakan. Tidak ada kesalahan dalam penyampaian Rasulullah n. Tidak pula Rasulullah n menyampaikan sesuatu tanpa ilmu. Namun apa yang beliau ketahui tatkala ayat tersebut turun, adalah apa yang nampak dari ayat tersebut bahwa ayat itu berkenaan tentang siksaan kubur bagi orang-orang kafir, dan belum dikabarkan kepada beliau bahwa hal itu juga bisa dialami seorang muslim yang berhak merasakannya disebabkan perbuatan dosa yang dilakukannya. Sedangkan Rasulullah n tidak mengetahui kecuali apa yang telah Allah l beritakan kepadanya, sebagaimana firman-Nya:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku’.” (Al-Kahfi: 110, Fushshilat: 6)

Al-Qurthubi t ketika menjelaskan ayat ini mengatakan: “Yaitu, saya tidak mengetahui kecuali apa yang Allah l ajarkan kepadaku.” (Tafsir Al-Qurthubi, 11/69)

Rasulullah  juga bersabda:


إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ فَمَا حَدَّثْتُكُمْ عَنِ اللهِ فَهُوَ حَقٌّ وَمَا قُلْتُ فِيهِ مِنْ قِبَلِ نَفْسِي فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ

“Sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, maka apa yang aku beritakan kepada kalian dari Allah maka itu adalah kebenaran, dan apa yang aku ucapkan dari diriku sendiri maka sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, bisa benar dan bisa salah.” (HR. Al-Bazzar dari Ibnu Abbas, dihasankan Al-Haitsami  dalam Al-Majma’, 1/178, dan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 455)

Sehingga apabila Rasulullah  menyampaikan sesuatu dari diri beliau, jika itu benar maka akan ditetapkan sebagai syariat. Jika apa yang beliau sebutkan keliru, maka segera turun wahyu dari Allah k untuk membenarkan kekeliruan apa yang disampaikan Rasulullah, sampai agama ini sempurna, sehingga tidak lagi membutuhkan koreksi dan pembenaran dari siapapun.

Dalil-Dalil As Sunnah

Dalil-dalil Syar’i dari As Sunnah Ash Shahihah tentang adanya azab kubur sangat banyak, di antaranya:

1. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:


أَنَّ يَهُودِيَّةً دَخَلَتْ عَلَيْهَا فَذَكَرَتْ عَذَابَ الْقَبْرِ فَقَالَتْ لَهَا أَعَاذَكِ اللَّهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَسَأَلَتْ عَائِشَةُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَقَالَ نَعَمْ عَذَابُ الْقَبْرِ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدُ صَلَّى صَلَاةً إِلَّا تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
زَادَ غُنْدَرٌ عَذَابُ الْقَبْرِ حَقٌّ

Bahwa wanita Yahudi masuk kepada ‘Aisyah, lalu dia menyebutkan tentang azab kubur, maka dia berkata kepadanya: “Berlindunglah kamu kepada Allah dari azab kubur.” Maka ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang azab kubur. Rasulullah menjawab: “Benar, azab kubur ada.” ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata: “Maka aku tidaklah pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan melainkan setelah shalat pasti ia meminta perlindungan dari azab kubur.” Ghundar menambahkan bahwa azab kubur adalah benar. (HR. Bukhari , Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fi Azabil Qabri, No. 1372)

2. Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda::


أَيُّهَا النَّاسُ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَإِنَّ عَذَابَ الْقَبْرِ حَقٌّ

“Wahai manusia, berlindunglah kalian dari azab kubur, sesungguhnya azab kubur itu benar adanya.” (HR. Ahmad No. 24520, Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini sesuai syarat (standar) Imam Bukhari. Lihat Fathul Bari, 3/236, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Shahih sesuai syarat syaikhan (Bukhari-Muslim).” Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 24520)

3. Dari Asma’ binti Abu bakar Radhiallahu ‘Anha:


قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَذَكَرَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ الَّتِي يَفْتَتِنُ فِيهَا الْمَرْءُ فَلَمَّا ذَكَرَ ذَلِكَ ضَجَّ الْمُسْلِمُونَ ضَجَّةً

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah dan menyebutkan tentang fitnah kubur, yang akan di alami oleh seseorang di dalm kubur, sehingga kaum muslimin merasakan ketakutan yang sangat. (HR. Bukhari, Kitab Al Janaiz Bab Maa Ja’a fi Azabil Qabri, No. 1373)

4. Dari Ummu Mubasyir Radhiallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّهُمْ لَيُعَذَّبُونَ فِي قُبُورِهِمْ قَالَ نَعَمْ عَذَابًا تَسْمَعُهُ الْبَهَائِمُ

“Berlindunglah kalian kepada Allah dari Azab kubur!” Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah apakah mereka akan di azab di kubur mereka?” Rasulullah menajwab: “Ya, dengan azab yang bisa di dengar oleh hewan.” (HR. Ahmad No. 27044. Ibnu Hibban No. 3125, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah No. 875. Syaikh Al Albany mengatakan shahih sesuai syarat Imam Muslim. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 1444. Syaikh Syu’aib AL Arnauth mengatakan: “Shahih, isnad hadits ini para perawinya adalah terperpercaya perawi syaikhan, kecuali Abu Sufyan –yaitu Thalhah bin Nafi’ Al Wasithiy- dia perawi Muslim saja.” Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 27044)

5. Dari ‘Aisyah Radhilallahu ‘Anha, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa di dalam shalat: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Masih ad Dajjal, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari, Kitab Al Adzan Bab Ad Du’a Qabla As Salam, No. 732) masih banyak lagi doa-doa seperti.

6. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:


مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melewati dua buah kuburan, lalu berkata: “Kedua penghuni kubur ini sedang disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar, melainkan karena dia tidak cebok dari kencingnya, sedangkan yang lain karena suka mengadu domba.” Lalu beliau mengambil pelepah kurma basah, dan membelahnya menjadi dua dan masing-masing ditancapkannya di dua kuburan tersebut. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kenapa kau lakukan itu?” Beliau bersabda: “Semoga diringankan siksa keduanya, selama kedua pelepah ini belum kering.” (HR. Bukhari, Kitab Al Wudhu’ Bab Maa Ja’a fi Ghuslil Baul No. 1378)

Sebenanya masih banyak yang belum saya sampaikan, seperti hadits Bukhari – Muslim tentang pertanyaan alam kubur, orang mu’min mampu menjawab dan selamat sedangkan orang kafir dan orang yang banyak dosanya tidak mampu menjawab dan mendapatkan pukulan dari malaikat, dan hadits-hadits shahih (valid/autenthic text) lainnya. Namun apa yang saya paparkan di atas mudah-mudahan mencukupi bagi orang yang menghendaki kebenaran.

Apa kata Para Imam Ahlus Sunnah Tentang Azab Kubur?

Beginilah pandangan para imam kaum muslimin yang terpercaya, yang mesti dijadikan panduan selanjutnya bagi mereka. Bukan buku-buku yang ditulis orang-orang kebingungan dan menafsirkan ayat secara akal-akalan semata.

Dalam Fiqhus Sunnah tertulis :


وقال المروزي: قال أبو عبد الله يعني الامام أحمد -: عذاب القبر حق لا ينكره إلا ضال مضل.
وقال حنبل: قلت لابي عبد الله في عذاب القبر.
فقال: هذه أحاديث صحاح نؤمن بها ونقر بها، وكل ما جاء عن النبي صلى الله عليه وسلم بإسناد جيد أقررنا به، فإنا إذا لم نقر بما جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم.
ودفعناه ورددناه، رددنا على الله أمره قال الله تعالى: (وما آتاكم الرسول فخذوه).
قلت له: وعذاب القبر حق؟ قال: حق.
يعذبون في القبور.
قال: وسمعت أبا عبد الله يقول: نؤمن بعذاب القبر، وبمنكر ونكير، وأن العبد يسأل في قبره: ف (يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة) في القبر.

Berkata Al Marwazi (Al Maruzi); berkata Abu Abdullah yakni Imam Ahmad: “Azab kubur adalah benar, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang sesat dan menyesatkan.” Berkata Hambal: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hambal) tentang azab kubur, dia menjawab: “Hadits-hadits ini adalah shahih dan kami beriman kepadanya dan menetapkan kebenarannya. Dan semua apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sanad yang baik maka kami membenarkannya, sebab jika kami tidak menetapkan kebenaran apa-apa yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka sama saja kami menolak dan membantah perintah Allah Ta’ala: “Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambil-lah.”

Saya berkata kepadanya: “Apakah azab kubur benar adanya?” Dia menjawab: “Benar, manusia disiksa di dalam kuburnya.” Dia berkata; Aku mendengar Abu Abdullah (Imam Ahmad) berkata: “Kami beriman kepada azab kubur, munkar dan nakir, dan sesungguhnya seorang hamba akan ditanya di kuburnya. Maksud ayat “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan Ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat,” yaitu di dalam kubur. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/572)

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah berkata :


وان عذاب القبر حق ومسألة الارواح بعد الموت حق ولا يحيا أحد بعد موته إلى يوم القيامة

“Sesungguhnya azab kubur adalah benar, dan ditanya-nya ruh setelah mati adalah benar, dan tak seorang pun dihidupkan setelah matinya hingga hari kiamat.” (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 1/22)

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah berkata :


وَذَهَبَ اِبْن حَزْم وَابْن هُبَيْرَة إِلَى أَنَّ السُّؤَال يَقَع عَلَى الرُّوح فَقَطْ مِنْ غَيْر عَوْد إِلَى الْجَسَد ، وَخَالَفَهُمْ الْجُمْهُور فَقَالُوا : تُعَاد الرُّوح إِلَى الْجَسَد أَوْ بَعْضه كَمَا ثَبَتَ فِي الْحَدِيث ، وَلَوْ كَانَ عَلَى الرُّوح فَقَطْ لَمْ يَكُنْ لِلْبَدَنِ بِذَلِكَ اِخْتِصَاص ، وَلَا يَمْنَع مِنْ ذَلِكَ كَوْن الْمَيِّت قَدْ تَتَفَرَّق أَجْزَاؤُهُ ، لِأَنَّ اللَّه قَادِر أَنْ يُعِيد الْحَيَاة إِلَى جُزْء مِنْ الْجَسَد وَيَقَع عَلَيْهِ السُّؤَال ، كَمَا هُوَ قَادِر عَلَى أَنْ يَجْمَع أَجْزَاءَهُ

“Ibnu Hazm dan Ibnu Hubairah berpendapat bahwa pertanyaan dalam kubur hanya terjadi pada ruh saja, dia tidak kembali kepada jasadnya. Namun jumhur (mayoritas) ulama berbeda dengan mereka, jumhur mengatakan: “Ruh akan dikembalikan kepada jasad atau sebagiannya sebagaimana telah dikuatkan oleh hadits. Seandainya hanya ruh saja tanpa dikembalikan ke badan, maka hal itu harusnya mencegah terjadinya terbagi-baginya tubuh mayat, karena sesungguhnya Allah Maha Mampu untuk mengembalikan kehidupan kepada sebagian anggota jasad dan memberikan pertanyaan kepada mereka, sebagaimana Dia juga mampu mengumpulkan lagi bagian-bagian yang telah terpotong itu.” (Fathul Bari, 3/235)

Apa yang dipaparkan oleh Imam Ibnu Hajar ini merupakan jawaban yang sangat telak bagi mereka yang mengatakan bahwa siksa kubur adalah majaz atau kiasan saja.

Hamdallah...

Share this article :

1 komentar:

  1. itu video dan suara siksa kubur, bukan berarti siksa kubur itu tidak ada, tapi video suara siksa kuburnya yang hoax baca berita lengkap disini...http://usi2506warungpojok.blogspot.com/2010/09/membongkar-kebohongan-videosuara-azab.html

    BalasHapus

 
PRA BENCANA KEDATANGAN DAJJAL • All Rights Reserved
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube