Rotary Club adalah Qua Vadis Gerakan Zionis Indonesia?

Rotary Club melakukan aktivitas ‘kemanusiaan’ yang bersifat ‘Social Function’. Di balik itu kedok 'kemanusiaan' itu, khususnya Rotary Club, menggalang l’esprit de corps sesama mereka dalam ihwal bisnis.

Sulit dipercaya ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa gerakan dan organisasi zionis telah begitu mengakar di Indonesia. Bila ditelisik lebih jauh, zionisme telah mengakar berbarengan dengan masuknya kolonialisme Belanda di Indonesia (VOC).

Bisa kita bayangkan begitu kokohnya gerakan tersebut merasuk dalam kehidupan rakyat Indonesia sejak abad 16 M. Salah satu sayap gerakan zionis yang mempunyai cabang di lebih dari 170 negara di dunia adalah Rotary Club yang merupakan turunan dari kegiatan Freemasonry international. Klub ini tersebar di seluruh dunia.

Anggota Rotary Club dipanggil rotarian dan mereka adalah para pemimpin bisnis dan profesional bahkan mewakili semua profesi (dokter, notaris, guru sekolah, pedagang, dan sebagainya). Menurut sebagian penganjur teori konspirasi zionis, perkumpulan tersebut mempunyai tujuan rahasia dan merupakan bagian dari persekongkolan zionisme internasional.

Tidak seorang pun menyanggah kenyataan bahwa anasir yang merusak, baik di bidang ekonomi maupun sosial di dunia sekarang ini, bukan saja diawaki, tetapi juga didanai oleh dan untuk kepentingan zionis. Setelah Kongres Zionisme Internasional ke-1 di Basel (1897) itu kecenderungan politik zionisme bekerja di dua arah, yang satu dilakukan secara diam-diam ditujukan untuk menghancurkan dan menguasai negara-negara non Zionis di seluruh dunia. Adapun yang lain lagi untuk membentuk sebuah negara Israel di Palestina.

Yang paling mengkhawatirkan bagi kita di Indonesia adalah kecenderungan gerakan diam-diam kelompok zionisme international. Pasalnya, mereka dapat leluasa menginfiltrasi Indonesia sebagaimana yang telah mereka lakukan sejak zaman pra kemerdekaan hingga kini. Apalagi sepanjang kiprahnya, gerakan ini bekerja untuk menghancurkan kesejahteraan 

Mereka melakukan aktivitas ‘kemanusiaan’ yang bersifat ‘Social Function’. Di balik itu kedok 'kemanusiaan' itu, khususnya Rotary Club, menggalang l’esprit de corps sesama mereka dalam ihwal bisnis.
 
manusia, merusak tatanan politik, ekonomi, dan sosial di negeri-negeri yang mereka tempati.

Di Indonesia upaya membendung gerakan zionisme ini sebenarnya sudah dilakukan oleh Presiden Soekarno. Pada Februari 1961, lewat Lembaran Negara nomor 18/1961, Presiden Soekarno membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala “derivat”nya seperti Rosikrusian, Moral Rearmament, Lions Club, Rotary Club, dan Baha’isme. Sejak itu, loji-loji (tempat-tempat peribadatan) mereka disita oleh negara.

Namun Presiden Abdurrahman Wahid melalui Keppres nomor 264/1962 mencabut larangan tersebut dan memberlakukan Keppres nomor 69 tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000 sebagai gantinya. Sejak itulah keberadaan kelompok-kelompok Zionis seperti Organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren-Loge (Loge Agung Indonesia) atau Freemasonry Indonesia, Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization Of Rosi Crucians (AMORC) dan Organisasi Baha’i menjadi resmi dan sah kembali di Indonesia.

Mereka melakukan aktivitas ‘kemanusiaan’ yang bersifat ‘Social Function’. Di balik itu kedok 'kemanusiaan' itu, khususnya Rotary Club, menggalang l’esprit de corps sesama mereka dalam ihwal bisnis.


Kegiatan Rotary Club

Pada umumnya organisasi ini melakukan kegiatan di bidang sosial, pendidikan dan kebudayaan. Mereka menggunakan semua kegiataan itu sebagai kedok saja. Di bidang sosial mereka sering membantu korban bencana alam, membagikan sembako, di bidang pendidikan mereka memberi sponsori para pelajar untuk melanjutkan studinya keluar negeri, dan di bidang budaya mereka membantu pelestarian budaya.

Disini kelihatannya misi mereka bagus, dan tidak ada hal yang mencurigakan dari itu semua, namun itu semua sekali lagi cuma kedok, agar masyarakat mau menerima mereka apa adanya, dan tidak mencurigai bahwa mereka adalah organisasi Zionis yang akan mengacak-acak Indonesia lewat program-program yang mereka sebut dengan 'kemanusiaan' itu. [IT/Tim Islam Times Indonesia]


Tidak ada komentar