Headlines News :
"JIHAD Menegakkan TAUHID, Membela Sunnah RASUL ALLAH, Hancurkan SYIRIK, Musnahkan BID'AH, Terapkan SYARI'AT ALLAH, Berantas KEMUNGKARAN dan KEMAKSIATAN," Tegaknya AGAMA ini haruslah dengan Kitab (AL QUR'AN DAN SUNNAH) Sebagai Petunjuk dan Sebagai Penolong. Kitab menjelaskan apa-apa yang diperintahkan dan apa-apa yang dilarang ALLAH, Pedang atau Pena menolong dan membelanya ".(Nasehat Berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahumullah)

Widget by KaraokeBatak
Home » , , » Tahun Baru Adalah Sejarah Ritual Bangsa Pagan

Tahun Baru Adalah Sejarah Ritual Bangsa Pagan

Written By Dedi E Kusmayadi on 29 Desember, 2013 | Minggu, Desember 29, 2013

"BILA BUDAYA JAHILIAH ATAU KAFIR TELAH MENDUNIA UMAT MUSLIM DIBIKIN BINGUNG"
 

Firman Allah : "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya". (Qs 17:36)

Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.

Merujuk pada Ayat dan hadits di atas, maka alangkah baiknya kalau kita seharusnya tabayun (kroscek) dahulu asal muasal dari perayaan tahun baru masehi.

Kenapa harus 1 Januari? Dan budaya dari kaum apakah perayaan tersebut? Hal itu dimaksudkan agar kita tidak terjebak oleh ketidaktahuan kita yang akan menyebabkan kita terlempar ke dalam kesesatan.

Sejarah Tahun Baru 1 Januari

Dari wikipedia : Bangsa Romawi mendedikasikan Hari Tahun Baru untuk Janus, dewa gerbang, pintu, dan awal untuk setiap bulan pertama tahun (Januari). Setelah Julius Caesar mereformasi kalender di 46 SM dan kemudian dibunuh, Senat Romawi lalu mendewakan dia pada 1 Januari 42 SM (Warrior, Valerie M. 2006. Roman Religion. Cambridge University Press. p. 110) untuk menghormati hidupnya dan lembaganya maka  kalender (kaleder gregorian) dirasionalisasi jadi baru. (Courtney, G. Et tu Judas, then fall Jesus ,Universe, Inc 1992, p. 50)

Bulan awalnya berubah nama menjadi D e w a J a n u s, yang memiliki dua wajah, satu melihat ke depan dan yang lain melihat ke belakang. Hal ini menunjukkan bahwa perayaan Tahun Baru yang didirikan pada tradisi pagan. Beberapa telah menyarankan hal ini terjadi pada 153 SM, ketika menetapkan bahwa dua konsul tahunan (setelah yang namanya tahun diidentifikasi) masuk ke kantor pada hari itu, meskipun tidak ada konsensus yang ada mengenai masalah ini. (Michels, A.K. The Calendar of the Roman Republic, Princeton, 1967, p. 97-8)

Sebagian besar negara di Eropa Barat secara resmi mengadopsi tanggal 1 Januari sebagai Hari Tahun Baru, sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian. Di Inggris, diadopsi dari kalender Gregorian tahun 1752, hari pertama tahun baru adalah Pesta Annunciation pada tanggal 25 Maret, juga disebut "Lady Day". Tanggal 25 Maret dikenal sebagai Annunciation Style, 1 Januari tanggal dikenal sebagai Sunat hari (Harris, Max, Sacred Folly: A New History of the Feast of Fools. Cornell University Press. p. 35,
2011-03-17)

karena ini adalah tanggal Pesta Sunat yesus, dianggap sebagai hari kedelapan dari kehidupan Kristus, menghitung sejak tanggal 25 Desember ketika kelahirannya dirayakan. Hari ini dibaptis sebagai awal Tahun Baru oleh Paus Gregorius saat ia merancang Kalender Liturgi. (Trawicky, Bernard, Anniversaries and Holidays 5th ed. American Library Association. p. 222
, 2000-07-01)


Perayaan Tahun di beberapa Negara terkait dengan Ritual Keagamaan

Perayaan menyambut Dewa Matahari
Bulan Januari (bulannya Janus) juga ditetapkan setelah Desember dikarenakan Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari dimana kaum pagan penyembah Matahari merayakan ritual mereka saat musim dingin. Pertengahan Winter Soltice jatuh pada tanggal 25 Desember, dan inilah salah satu dari sekian banyak pengaruh Pagan pada budaya kristen selain penggunaan lambang Salib Tanggal 1 Januari sendiri adalah seminggu setelah pertengahan Winter Soltice, yang juga termasuk dalam bagian ritual dan perayaan Winter Soltice dalam Paganisme.

Tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).


Sosok Dewa Janus dalam mitologi Romawi

Dewa Janus sendiri adalah sesembahan kaum Pagan Romawi, dan pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yang sama bernama dewa Chronos. Kaum Pagan, atau dalam bahasa kita disebut kaum kafir penyembah berhala, hingga kini biasa memasukkan budaya mereka ke dalam budaya kaum lainnya, sehingga terkadang tanpa sadar kita mengikuti mereka. Sejarah pelestarian budaya Pagan (penyembahan berhala) sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) di Yunani

Kaum Pagan sendiri biasa merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, dan bernyanyi bersama. Kaum Pagan di beberapa tempat di Eropa juga menandainya dengan memukul lonceng atau meniup terompet.

Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh.


Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa , tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi.

Bagi orang Persia yang beragama Majusi (penyembah api), menjadikan tanggal 1 Januari sebagai hari raya mereka yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus.

Penyebab mereka menjadikan hari tersebut sebagai hari raya adalah, ketika Raja mereka, ‘Tumarat’ wafat, ia digantikan oleh seorang yang bernama ‘Jamsyad’, yang ketika dia naik tahta ia merubah namanya menjadi N a i r u z pada awal tahun. N a i r u z sendiri berarti tahun baru. Kaum Majusi juga meyakini, bahwa pada tahun baru itulah, Tuhan menciptakan cahaya sehingga memiliki kedudukan tinggi.

Kisah perayaan mereka ini direkam dan diceritakan oleh al-Imam an-Nawawi dalam buku "Nihayatul Arob" dan "al-Muqrizi" dalam al-Khuthoth wats Tsar. Di dalam perayaan itu, kaum Majusi menyalakan api dan mengagungkannya karena mereka adalah penyembah api. Kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, mereka bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan khamr (minuman keras). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam. Orang-orang yang tidak turut serta merayakan hari Nairuz ini, mereka siram dengan air bercampur kotoran. Semuanya dirayakan dengan kefasikan dan kerusakan.



Bagaimana sikap kita?

Sungguh aneh bila di zaman kini kita kembali ke jaman jahililiah..seolah-olah tanggal 1 Januari merupakan peninggalan kebudayaan islam. Marilah kita kembali tegakan agama ini secara kaffa. Entah para pendakwah dan ustadz tak pernah menjelaskan akan hal ini.
 
Setelah kita mengetahui bahwa tradisi Perayaan 1 januari merupakan Perayaan yang terkait dengan ritual keagamaan dan budaya dari kuffar, dan adanya larangan untuk menyerupai sebuah kaum.

maka sebaiknya kita tidak perlu ikut ikutan merayakannya apalagi meniru budaya dari kaum kuffar.

semoga kita semua senantiasa ingat Firman Allah ini :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya


Diriwayatkan dari Tqausan r.a Rasulullah SAW bersabda : “akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa didunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan”. Salah seorang sahabat bertanya: "apakah karena jumlah kami dimasa itu sedikit”. Rasulullah menjawab : "jumlah kalian banyak tapi seperti buih dilautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit "wahan" dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi : “apakah penyakit "wahan" itu ya rasulullah?” Beliau bersabda : Cinta kepada dunia dan takut mati!." (Hadist shahih no.958).


Hadits yang melarang menyepakati perayaan kaum kuffar banyak sekali. Diantaranya adalah :

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – قال: قدم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – المدينة، ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ما هذان اليومان، قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية. فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم –: (إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما، يوم الأضحى، ويوم الفطر)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu beliau berkata : Rasūlullah Shallallahu ’alahi wa Sallam tiba di Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”dua hari apa ini?”. Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasūlullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam mengatakan : ”Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adha dan idul fithri.” (Shahih Hadits Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa`i dan al-Hakim)


Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullâhu berkata :

فوجه الدلالة أن اليومين الجاهليين لم يقرهما رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ولا تركهم يلعبون فيهما على العادة، بل قال إن الله قد أبدلكم بهما يومين آخرين، والإبدال من الشيء يقتضي ترك المبدل منه، إذ لا يجمع بين البدل والمبدل منه.

"Sisi pendalilan hadîts di atas adalah, bahwa dua hari raya jahiliyah tersebut tidak disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam dan Rasulullah tidak meninggalkan (memperbolehkan) mereka bermain-main di dalamnya sebagaimana biasanya. Namun beliau menyatakan bahwa sesungguhnya Allôh telah mengganti kedua hari itu dengan dua hari raya lainnya. Penggantian suatu hal mengharuskan untuk meninggalkan sesuatu yang diganti, karena suatu yang mengganti dan yang diganti tidak akan bisa bersatu".

 

Adapun atsar sahabat dan ulama salaf dalam masalah ini, sangatlah banyak. Diantaranya adalah ucapan ’Umar radhiyallâhu ’anhu, beliau berkata :

اجتنبوا أعداء الله في عيدهم

”Jauhilah hari-hari perayaan musuh-musuh Allah.” (Sunan al-Baihaqi IX : 234).
 

Abdullah bin Amr radhiyallahu ’anhuma berkata :

من بنى ببلاد الأعاجم وصنع نيروزهم ومهرجانهم ، وتشبه بهم حتى يموت وهو كذلك حُشِر معهم يوم القيامة

"Barangsiapa yang membangun negeri orang-orang kafir, meramaikan peringatan hari raya nairuz (tahun baru) dan karnaval mereka serta menyerupai mereka sampai meninggal dunia dalam keadaan demikian. Ia akan dibangkitkan bersama mereka di hari kiamat." (Sunan al-Baihaqi IX : 234).

Astaghfirullah hal azim.... 



Imam Muhammad bin Sirin berkata :


: أُتي على -رضي الله عنه- بهدية النيروز. فقال : ما هذا ؟ قالوا : يا أمير المؤمنين هذا يوم النيروز . قال : فاصنعوا كل يوم فيروزاً . قال أسامة : كره أن يقول : نيروز

Ali radhiyallahu ’anhu diberi hadiah peringatan Nairuz (Tahun Baru), lantas beliau berkata : "apa ini?”. Mereka menjawab, ”wahai Amirul Mu’minin, sekarang adalah hari raya Nairuz.” ’Ali menjawab, ”Jadikanlah setiap hari kalian Fairuz.” Usamah berkata : Beliau (Ali mengatakan Fairuz karena) membenci mengatakan ”Nairuz". (Sunan al-Baihaqi IX : 234).


Imam Baihaqi memberikan komentar :

وفي هذا الكراهة لتخصيص يوم بذلك لم يجعله الشرع مخصوصاً به


"Ucapan (Ali) ini menunjukkan bahwa beliau membenci mengkhususkan hari itu sebagai hari raya karena tidak ada syariat yang mengkhususkannya."

Apabila demikian ini sikap manusia-manusia terbaik, lantas mengapa kita lebih menerima pendapat dan ucapan orang-orang yang jâhil dan mengikuti budaya kaum kuffar daripada ucapan para sahabat yang mulia ini.


Hari Raya Kita Adalah Idul Fitri dan Idul Adha Serta Jum’at

Di dalam As Sunnah yang diriwayatkan oleh Ummul Mu'minin, a`isyah ash-Shiddiqah binti ash-Shiddiq radhiyallahu ’anhuma, beliau menceritakan bahwa ayahanda beliau, Abu Bakar radhiyallahu ’anhu mengunjungi Rasulullah. Kemudian Abu Bakar mendengar dua gadis jariyah menyanyi dan mengingkarinya. Mendengar hal ini,

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam bersabda :

يا أبا بكر ! إن لكل قوم عيداً وإن عيدنا هذا اليوم

"Wahai Abu Bakar, sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya dan hari raya kita adalah pada hari ini." (HR Bukhari).

Dari hadîts di atas, ada dua hal yang bisa kita petik : Pertama, sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam : ”Sesungguhnya setiap kaum itu mempunyai hari raya” menunjukkan bahwa setiap kaum itu memiliki hari raya sendiri-sendiri.

Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala :

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً

”Untuk tiap-tiap (ummat) diantara kalian ada aturan dan jalannya yang terang (tersendiri).” (QS al-Ma`idah : 48).

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan aturan dan jalan sendiri-sendiri secara khusus. Kata Lam (لِ) pada kata Likullin (لِكُلٍّ) menunjukkan makna ikhtishash (pengkhususan). Apabila orang Yahudi memiliki hari raya dan orang Nasrani juga memiliki hari raya, maka hari-hari raya itu adalah khusus bagi mereka dan tidak boleh bagi kita, kaum muslimin, ikut turut serta dalam perayaan mereka, sebagaimana kita tidak boleh ikut dalam aturan dan jalan mereka.

Kedua, sabda Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Sallam : وإن عيدنا هذا اليوم (Dan hari raya kita adalah pada hari ini”), dalam bentuk ma’rifah (definitif) dengan lam dan idhafah menunjukkan hasyr (pembatasan), yaitu bahwa jenis hari raya kita dibatasi hanya pada hari itu. Dan hari tersebut di sini masuk pada cakupan hari raya ’Idul Fithri dan Idul Adha, seperti dalam perkataan para ulama fikih :

لا يجوز صوم يوم العيد

”Tidak boleh berpuasa pada hari raya”.

Maka maksudnya tentu saja, tidak boleh berpuasa pada dua hari raya "I d u l  F i t h r i dan I d u l  A d h a".

Dalil lainnya adalah hadits Anas bin Malik :

عن أنس بن مالك – رضي الله عنه – قال: قدم رسول الله – صلى الله عليه وسلم – المدينة، ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ما هذان اليومان، قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية. فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم –: (إن الله قد أبدلكم بهما خيراً منهما، يوم الأضحى، ويوم الفطر)

Dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ’anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ’alahi wa Sallam tiba di Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”dua hari apa ini?”. Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasulullah Shallallahu allaihi wasallam mengatakan : ”Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adha dan idul fithri.” (Hadits Shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa`i dan al-Hakim)

Adapun Jum’at, maka termasuk hari raya kaum muslimin yang berulang-ulang dalam tiap pekannya. Sehingga dengannya telah cukup bagi kita dan tidak mencari hari-hari perayaan lainnya.

Dalîl hal ini adalah, sabda Nabi yang mulia Shallallahu alahi wasallam :

أضل الله عن الجمعة من كان قبلنا ، فكان لليهود يوم السبت، وكان للنصارى يوم الأحد فجاء الله بنا، فهدانا الله ليوم الجمعة، فجعل الجمعة والسبت والأحد ، وكذلك هم تبع لنا يوم القيامة، نحن الآخرون من أهل الدنيا ، والأولون يوم القيامة، المقتضي لهم

"Allah simpangkan dari hari Jum’at umat sebelum kita, dahulu Yahudi memiliki (hari agung) pada hari Sabtu / Sabat dan Nashrani pada hari Ahad / Minggu. Kemudian Allah datangkan kita dan Allah anugerahi kita dengan hari Jum’at, lantas Allah jadikan hari Jum’at, Sabtu dan Ahad. Demikianlah, mereka adalah kaum yang akan mengekor kepada kita pada hari kiamat sedangkan kita adalah umat yang terakhir dari para penduduk dunia namun umat yang awal pada hari kiamat, yang diadili (pertama kali) sebelum makhluk-makhluk lainnya". (HR Muslim)

Dari Ibnu ’Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa salam bersabda :

إن هذا يوم عيد جعله الله للمسلمين فمن جاء الجمعة فليغتسل…


"Sesungguhnya hari ini adalah hari ’Ied yang Allah jadikan bagi kaum Muslimin, barangsiapa yang mendapati hari Jum’at hendaknya ia mandi…” (HR Ibnu Majah dalam Shahih at-Targhib I/298).

Semoga setelah membaca tulisan in, kita bisa menentukan sikap dalam menyikapi perayaan 1 januari sebagai tahun baru.

Dan bagaimanakah sikap kita bukan atas dasar sekedar ikut ikutan, tetapi pilihan kita adalah yang berdasarkan pengetahuan, karena kita sadar betul bahwa semuanya akan dimintai pertanggungan jawab di Yaumil Hisab kelak.

Barakallah fiekum Semoga bermanfaat. 
_________________
Dari berbagai Sumber
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
PRA BENCANA KEDATANGAN DAJJAL • All Rights Reserved
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube