Headlines News :
Home » » Kitab Talmud Dalam Lintasan Sejarah

Kitab Talmud Dalam Lintasan Sejarah

Written By Dedi E Kusmayadi on 5/21/2013 | 5/21/2013

TALMUD BABILONIA
Firman Allah : Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (Al-Baqarah 2:79)

Selanjut Allah Subhana wataaalla mempertegas sifat bani Israil atau Yahudi ini : 

- Mengaku bahwa wahyu yang dibaca adalah asli

"Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui". (Al-'Imran 3:78)

- Mengubah Firman Allah

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Al-Baqarah 2:75)

Bani Israel memang sejak dahulu kala bahkan ribuan tahun yang lalu sudah berulang kali merusak kitab suci yang diwahyukan oleh Allah swt kepada mereka. Bermula dari Taurat, Injil, dan mereka berusaha untuk merusak kitab suci umat Islam, Al-Quran. Tetapi untuk yang terakhir ini mereka tidak akan pernah berhasil sedikit pun karena Zat yang Maha Kuasa yang akan menjaganya dari segala tangan-tangan jahat sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al-Hijr : 9.

Studi komprehensif tentang Yahudi dan Talmud masih sedikit, masih diperlukan uraian faktual dan analisa yang besar porsinya untuk mengenal musuh bebuyutan kita itu, menurut Muhammad Husain Haikal, umat Islam baru menseriusi polemik Yahudi setelah terjadinya perang tahun 1967. Dan untuk mengetahui karakter bangsa Yahudi ini, kita harus lebih dahulu mengenal kitab suci mereka, Talmud. Sebuah kitab suci yang sangat dibanggakan oleh manusia-manusia yang menyebut dirinya sebagai Bangsa Pilihan Tuhan atau Teman Dekat Tuhan ini.

Talmud berarti ajaran atau pengetahuan, derivasi dari kata laumid dalam bahasa Ibrani yang artinya pelajaran, ada yang mengatakan pengajaran dengan perantara kitab suci, dan setelah pertengahan abad kedua maeshi ditetapkan Talmud sebagai kitab yang berisi hukum-hukum syariat kaum Yahudi.[1]

Pada prinsipnya kitab Talmud terbagi dalam dua bagian : Pertama, Mishnah sebagai naskah asli (Matan) adalah kepingan-kepongan udang-undang yang dibuat oleh bangsa Yahudi untuk kepentingan mereka sendiri, guna melengkapi kitab Taurat (Perjanjian Lama). Kitab Mishnah ini disusun sekitar tahun 190-200 SM oleh seorang bernama Judah Hanasi, kira-kira 1 abad setelah Titus dari Romawi menghancurkan Haikal (Kuil Yahudi).

Kedua, Gemara yang tersusun atas Gemara Jerussalem (Palestina) yang berisi rekaman diskusi para tokoh agama (Hakhom) yang ada di Palestina, khususnya para tokoh agama jebolan Thabariyah, saat mereka menafsirkan nash-nash kitab Mishnah. Gemara Jerussalem ini selesai dikodifikasikan pada sekitar abad ke IV Masehi. Sementara Gemara Babilon adalah hasil rekaman penafsiran MIshnah oleh para tokoh agama Yahudi di Babikonia, penyusunannya selesai sekitar tahun 500 Masehi.

Mishnah dengan tafsir Gemara Jerussalem disebut dengan nama “Talmud Jerussalem”, sedangkan Mishnah dengan tafsiran Gemara Babilon disebut“Talmud Babilon”, keduanya sejenis. Mishnah sendiri adalah kodifikasi Undang-Undang Lisan (Oral Law atau Oral Tradition) yang pindah dan beredar dari mulut ke mulut para Hakhom sejak lahirnya gerakan Pharisi. Undang-undang lisan ini disusun menurut kehendak para Hakhom itu sendiri. Gerakan Pharisi ini mencapai puncak aktifitasnya pada zaman nabi Isa u, yang kemudian melahirkan suatu aliran destruktif yang melandasi gerakan Pharisi di kemudian hari. Isa Al-Masih, Nabiyullah mengutuk gerakan kaum Pharisi.[2]

Dalam muqaddimah “Tafsir Mishnah”, filosof Yahudi Maimonides telah menuliskan definisi Mishnah sebagai berikut :

“Sejak dari guru kita Musa sampai pada Hakhom kita yang suci Judah Hanasi, para ulama belum pernah bersepakat tentang prinsip ajaran keyakinan yang harus diajarkan secara terang-terangan atas nama “Undang-Undang lIsan”. Bahkan setiap Ketua Mahkamah, sebagai Nabi pada setiap generasi, selalu membuat catatan sendiri berdasarkan apa yang pernah didengar dari para tokoh sebelumnya, yang kemudian disampaikan secara lisan kepada umatnya. Jadi setiap ulama menyusun kitab sejenis yang sesuai dengan tingkat kemampuanyyan masing-masing. Jika karya ulama itu cukup berbobot sebagai tafsir kitab Taurat dan Undang-Undang Lisan (yang tertulis itu), maka karya tersebut bias dikukuhkan oleh SANHEDRIN yaitu Mahkamah Tertinggi Yahudi. Demikianlah perkembangannya sampai pada masa Hakhom. Yahudi yang suci- Judah Hanasi, sebagai orang pertama yang menghimpun ajaran hukum, keputusan-keputusan serta uraian undang-udang yang berasal dari Musa –Guru utama kita yang harus ditaati oleh setiap generasi.[3]

Pertumbuhan Mishnah

Mishnah dalam bahasa Ibrani berarti: Ma’rifat atau Learning, juga disebut sebagai Undang-Undang Kedua (Second Law) sesudah Taurat[4]. Bangsa Yahudi berkeyakinan bahwa Mishnah berasal dari wahyu yang dturunkan kepada Nabi Musa di Thur Sinai. Dikisahkan oleh Hakhom Levi ben Chama berasal dari Simon ben Lakish –sebuah ayat yang katanya sebagai tafsiran dari Taurat, “Kau akan kami beri Lah Batu yang telah kami tulis di atasnya Undang-Undang dan Wasiat, untuk kau ajarkan kepada mereka” (Exodus 24:12).

Yang dimaksud dengan Lauh adalah sepuluh wasiat (Ten Comandements); Undang-Undang yang dimaksud oleh ayat di atas adalah Undang-Undang tertulis, sedangkan Wasiat adalah Mishnah. “Yang kami tulis” berbarti yang ditulis para Nabi dari berbagai kitab suci – yang dikutip oleh kaum Yahudi- “untuk kau ajarkan” mempunyai arti kitab Gemara. Semua ajaran tersebut telah diberkan kepada Musa di Thur Sinai.

Jelaslah bagaimana para tokoh agama Yahudi iru telah menipu umatnya. Betapa mereka telah membedakan antara Lauh Bati dengan undang-undang tertulis (padahal keduanya adalah satu). Kemudian mereka mencampur adukkan antara Lauh dan Wasiat, serta menganggap bahwa Lauh itu adalah wasiat yang sepuluh, sedangkan wasiat itu adalah Mishnah. Mereka juga membohong umat dengan mengatakan bahwa kalimat “untuk kau ajarkan” bukannya ajaran Taurat tetapi apa yang diajarkan dalam kitab Gemara (mereka menganggap kitab tersebut lebih penting dari seluruh kitab yang ditulis oleh seluruh kitab yang ditulis oleh para pembesar agama Yahudi, masalah ini akan diuraikan di belakang nanti). Mereka juga telah menafsirkan “yang Kam tulis” bahwa subyeknya kembali kepada para Nabi, padahal yang dimaksudkan adalah Tuhan.

Orang-orang Yahudi telah menambahkan, bahwa Mishnah berasal dari Musa dan telah berpindah-pindah selama 40 generasi sampai Judah Hanasi yang suci. Secara hukum bangsa Yahudi tidak dibenarkan menuliskan (membukukan) ajaran tersebut, selama kuil mereka masih berdiri sebagai Markas Besar Yahudi. Kitab Yahudi yang terpenting menyerupai Mishnah adalah kitab karya Hakhom Eliezer ben Jacob yang bernama Braitha. Kitab ini dianggap sebagai pasangan kitab Mishnah, disebabkan 102 undag-undang dari hukum syariat Talmud adalah yang ditulis oleh Eliezer ben Jacon, walaupun isinya bertentangan dengan Mishnah.

Pembahasan Mishnah

Mishnah terdiri dari 6 pembahasan yang bernama Sidarim yang berarti undang-undang yang bersifat perintah, sebagai berikut:

- Zeraim, berisi pembahasan mengenai masalah pertanian yang terdiri atas 11 Bab atau traktat.
- Moed, meliputi masalah lebaran dan puasa, terdiri atas 12 Bab.
- Nashim (wanita) yang memuat masalah undang-undang perkawinan, talak, nadzar dan yang bernadzar. Terdapat 7 Bab di antaranya “Abudah Zarah” yang artinya “Mengabdi pada Berhala”, jelaslah sudah melalui pokok pembicaraan ini bahwa kaum Yahudi mempunyai hubungan dengan animesme.
- Nezekim (darurat) berisikan undang-undang perdata dan pidana, sebanyak 10 Bab.
- Kodashim (semua yang dikuduskan), tentang peraturan sembahyang dan penyembahan kepada Tuhan, sebanyak 11 Bab.
- Toharoth (mensucikan), peraturan tentang kesucian dan najis, terdiri dari 12 Bab.

Isi keseluruhan kitab Mishnah ini adalah 63 Bab yang teruarai dalam pasal-pasal.

Talmud kadangkala juga disebut “Shash” sebagai singkatan dari kata Ibrani“Shisash Sedarin” yang artinya “Enam Hukum”. Sebagai pendamping kitab “Enam Hukum” ini adalah kitba Talmud mini (Minor Tractates) yang isinya sebagai berikut:Sefer Torah, Mezuzah, Tafilin, Tzitzith, Abadin, Kuthim dan Gerim. Selain itu masih ada 6 buah Bab lagi dalam kitab Talmud gaya baru yaitu; Aboth de Rabbi Nathan, Soferim, Semahoth, Kallah, Derech Eretz Isarel dan Derech Eretz Zuta.

Masih terdapat pula kitab mirip dengan Talmud, yaitu kitab yang bernama Midrash. Kitab ini berisi dongeng-dongeng dan hukum yang diciptakan oleh para Hakhom setelah penyusunan Talmud. Para Hakhom itu khawatir jangan sampai dongengan dan hukum yang diciptakan mereka itu tercecer dan hilang, maka mereka terpaksa membukukannya dalam kitab Midrash ini. Padahal mengabadikan Talmud sendiri membutuhkan waktu lebih dari seribu tahun.[5]

Para Arsitek Mishnah
Hakhom Akiba menyusun dan mengkodfikasikan kitab Mishnah, menyusul kemudian muridnya, Meir yang melengkapi Mishnah dan menyederhanakannya. Para pembesar Hakhom telah pula merintis penyusunan Mishnah, masing-masing menurut selera masing-masing, sampai pada Judah Hanasi yang berhasil mengumpulkan seluruh Mishnah yang ada dan menjadikannya satu kitab Mishnah yang standart. Judah Hanasi sukses menghimpun semuanya itu, terutama dalam menukil karya Meir.

Para ulama yang ikut serta dalam penyusunan Mishnah sejak matinya Hillel tahun 10 Masehi hingga selsainya penyusunannya sekitar tahun 200 Masehi disebut dengan nama Tanna’im[6], sedangkan para ulama yang terlibat dalam penyusunan tafsir utama “Gemara”, disebut dengan Amoraim. Mereka yang menambah penafsiran Talmud pada abad ke enam dan ketujuh, dinamakan Saboraim yang berarti cendekiawan (reasoners). Para Hakhom yang menafsirkan Talmud dinamakanGeonim, apabila mereka termasuk tokoh golongan Yahudi, sebutan untuk mereka adalah Posekim (penentu/desiders).

Ada suatu kekhilafan, apakah Judah Hanasi yang menghimpuan kitab Mishnah ini ataukah ilmuan (Saboraim) pada abad keenam? Menurut catatn kaum Yahudi, telah disepakati bahwa Judah Hanasi sebagai penghimpun kitab Mishnah, sedangkan pendatang berikutnya hanyalah sebagai penyunting dan penafsir.

Hukum-hukum dalam kitab Mishnah pada umunya majhul masdarnya, dianggap sebagai hukum yang bisa diterima, mungkin berasal dari pendapat hukama orang yang arif lagi bijaksana Sages (Hachamim), para guru. Pandangan para Hakhom dianggap lebih utama apabila terjadi suatu khilaf atau perselisihan dalam suatu masalah.

Bahasa kitab Mishnah adalah Ibrani Baru (Neo Hebrew) yang sudah dipengaruhi bahasa Yunani dan latin. Edisi terbaik kitab Mishnah adalah yang dicetak di Roma dan diterbitkan di Wilno, ibu kota Polandia Utara. Pada kitab Mishnah terbitab Frankrut, tahun 1927, telah ditambahkan suatu lampiran untuk kata-kata sukar, olehH.J Kassowsky. Sedangkan Mishnah yang diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh H. Dauby, terbit di Oxford pada tahun 1933.

Ada sebuah kitab penting lainnya lagi, sejenis Mishnah yaitu Braitha, berisikan ajaran para ulama Tanna’im yang hidup sesudah masa Yudah Hanasi sang penghimpun Mishnah. Untuk membedakan kitab Mishnah karya Yudah Hanasi dengan karya para ulama Tanna’im itu (Braitha), maka karya Yudah Hanasi diberi nama Mathnithan(Mishnah kami, Our Mishnah).[7]

Gemara artinya Pelengkap (Completion), penulisannya diawali oleh dua orang putra Yudah Hanasi yaitu Hakhom Gamaliel dan Hakhom Simeon. Kitab ini kemudian disusun kembali oleh Hakhom Ashi, disebuah kota dekat sungai Eufrat, Sura, dari tahun 365 sampai 425 Masehi. Kitab ini akhirnya diselesaikan penulisannya olehHakhom Akino (disebut juga sebagai Rabina). Penutup kitab ini ditulis oleh Hakhom Jose, yang pada khir hayatnya mendapat gelar dari bangsa Yahudi sebagai Pemberi Perintah (Dictator), sekitar tahun 498 Masehi. Para ulama yang mengikuti jejak langkah Hakhom Jose ini diberi gelar sebagai Pencetus Ide (Opinionost), mereka dianggap sebagai sumber hukum dari karya sebelumnya. Mereka jugalah yang kemudian menurunkan para ulama kenamaan (Sublime Doctors). Sesudah masa para ulama ini, lahirlah kemudian masa para Hakhom biasa yang sekarang disebut sebagai para  Rabbi.

Sanhendrin

Dalam bahasa Ibrani kata ini berarti Mahkamah Tertinggi. Tentang lembaga ini tercantum dalam Bab IV kitab Mishnah (Nizkin) yang membahas kedudukan Mahmakah Tertinggi Yahudi, prinsip dasar dan Anggaran Dasarnya. Bab ini terbagi dalam 11 pasal, setiap pasalnya membahsa kemungkinan wewenang Mahkamah Tertinggi Yahudi ini untuk menelorkan berbagai hukum dan kemungkinan ikut campurnya lembaga ini dalam kehidupan keagamaan bangsa Yahudi[8]. Samuel Krauss dalam sebuah bukunya menyamakan Sanhendrin ini dengan laporan Hakim. Ia mengatakan:

“Urgensi dari pasal ini berkisar tentang Yurispudensi Mahkamah Tertinggi Yahudi (Jewish Synhendrion) yang dianggap sebagai cuplikan akhir kehidupan pemerintahan Yahudi. Dan pasal ini mendapat perhatian yang besar sekali dari para peneliti, karena hal ini menyangkut hidup matinya banga Yahudi.[9]

Talmud Yerussalem (Palestina)

Kitab ini juga dinamakan Talmud (atau Gemara) Tanah Israel-Eretz Israel, atau juga sebagai Talmud Bani Ma’ariba (Maghrib). Selesai dihimpun pada tahun 400 Masehi, setelah selesai melalui suatu proses yang ketat oleh Ursicinus pada tahun 351 di Palestina. Penulisan Talmud Jerussalem ini didorong oleh keresahan bangsa Yahudi akan kemungkinan hilangnya undang-undang tak tertulis yang tersembunyi itu.[10]

Sebenarnya yang berusaha untuk mengabadikan Talmud Yerussalem adalah ulamaCaesarea bukannya para ulama dari Jerussalem sendiri. Digunakannya nama Jerussalem hanyalah sebagai kiasa saja untuk mewakili seluruh bagian, sebagai pimpinan para ulama yang mengbadikan Talmud ini adalah Hakhom Jochanan.

Talmud Jerussalem –seperti yang ada sekarang- hanyalah terdiri dari 6 bab –termasuk di dalamnya pasal Niddah pada bab keenam. Pada zaman Musa bin Maimun (Maimonides) Talmud Jerussalem hanya terdiri dari 5 bab, sedangkan 1 bab yang terakhir ditiadakan. Talmud jerussalem ini pertama kali dicetak tahun 1522-1523 di Venezia, Italia. Kemudia terbit cetakan kedua di Cracow, Polandia, sekitar tahun 1602-1605 berikut dengan tafsir dan komentar sehubungan dengan meningkatnya perhatian terhadap Talmud di negeri itu. Edisi Cracow ini dicetak ulang di Krotoschin pada tahun 1886. Diikuti kemudian dengan diterbitkannya Talmud Jerussalem edisi Zhitomir pada tahun 1860-1867. Meyusul pula terbitan Pioterkievsekitar tahun 1899-1900 dan edisi Roma, di kota Wilno pada tahun 1922. Talmud Jerussalem edisi Roma ini dilampiri pula dengan tafsirnya yang dicetak pada tahun 1929 dengan nama Tashlum Yerushalmi. Di kota Leipzig wilayah Jerman pada tahun 1925 terbit pula Talmud Jerussalem edisi Venezia yang bergambar, kemudian disusul dengan terbitan Berlin pada tahun 1929.

Talmud Jerussalem Versi Baru

Redaksi Ensiklopedia Umum Yahudi telah menyatakan bahwa dalam periode terakhir ini, Talmud Jerussalem banyak mengalami penggusuran yang disebabkan oleh dua kemungkinan:


- Para editor terdahulu teledor atau lalai tidak mencantumkan beberapa pasal (Scibal Ommisions)

- Pemalsuan yang disengaja (Deliberete Falsification)

Kami (yaitu penulis: Dhafrul Islam Khan) tidak dapat menerima alasan yang pertama, yaitu karena keteledoran pada editor maka Talmud Jerussalem berubah dalam terbitan terakhirnya. Kami menyakini bahwa para ulama Yahudi sendiri yang melakukan pemalsuan (penggusuran) itu, disebabkan bangkitanya amarah penduduk Kristen Eropa yang mengutuk bangsa Yahudi. Kemarahan penduduk Kristen Eropa ini muncul setelah mereka membaca kitab-kitab Yahudi  yang sangat anti-kristen.

Mengapa kami tidak menerima alasan yang pertama, juga disebabkan adanya kenyataan bahwa kitab Talmud yang lama (sebelum  terbitnya kitab Talmud versi baru abada ini) telah mengalami puluhan kali cetak ulang di abad pertengahan. Kitab Talmud yang orisinil ini –sejenis versi Venezia-, akhirnya dicabut peredarannya oleh gereja.

Redaksi Ensiklopedia Umum Yahudi itu sendiri menyatakan: “Nash Talmud Palestina versi baru itu sebenarnya semrawut. Para editornya bertindak tidak teliti dalam menukil arti kata-kata yang sulit, disebabkan gaya bahasa Talmud yang sangat pelik. Maklumlah, Talmud bukanlah karya tulis biasa. Problem teks asli ini malah memperbanyak kesalahan para editor itu, seperti ketika mereka menemui kata-kata serupa yang berulang-ulang, hilangnya beberaapa huruf, atau bahkan melompati beberapa baris dikarenakan mereka tidak memahami slogan-slogan yang tertulis dalam Talmud”.[11]

Talmud Palestina tertulis dalam bahsa Ibrani atau Arami Barat, keseluruhan terdiri dari kurang lebih 750 ribu kata. Kitab ini 15 persennya berisikan Hanggada, yaitu kisah dongengan dan kisah-kisah Yahudi yang khas. Dongengan inilah yang menjadi dasar kisah-kisah Israiliyat dalam buku-buku yang ditulis oleh ulama Islam.



Talmud Babilonia

Setelah meninggalnya Judah Hanasi, para ulama Yahudi mendapatkan banyak dari karya-karyanya yang belum diabadikan dalam kitab Mishnah. Naskah Talmud Babilonia dihimpun berdasarkan Mishnashnya Judah Hanasi beserta tafsir yang ditulis oleh Hakhom Abba Areka[12] di Sura. Kitab-kitab yang terpenting dari karya Hakhom Abba Areka adalah Tosefta yang memuat Haggadah yang dijadikan sumber hukum.

Setelah hasil diskusi yang telah disepakati oleh para Hakhom itu terkumpul, maka orang yang pertama kali berusaha membukukan Talmud Babilonia ini adalah Ashiyang wafat pada tahun 427 Masehi, dengan bantuan Rabina. Penulisan Talmud Babilonia ini bertujuan agar bangsa Yahudi memiliki sebuah kitab undang-undang yang standart yang dapat digunakan sebagai pegangan untuk dipelajari para siswa Yahudi.

Hakhom Rabina Bar Huna, yang wafat pada tahun 499 Masehi merampungkan karya mendiang Ashi yang belum selesai. Sedangkan Hakhom Saboraim sekitar abad ke 6 dan ke 7, telah melakukan peletakan dan dasar-dasar tafsir pada naskah milik Rabina serta menambahkan satu bab baru tentang berbagai masalah. Dan perlu diketahui bahwa Kuil Yahudi (Jewish Temple) atapun Mazhab Hakhom tak pernah ada sebelumnya kecualin pada zaman perbudakan di Babilonia. Dengan ini maka selesailah problema pendirian Haikal (Bet Hakenesset). Jelas sekali nama ini menjurus pada kehendak untuk mendirikan kuil-kuil yang sama pula tujuannya saat para ulama Yahudi ketika membukukan Talmud.[13]

Pencetakan Talmud Babilonia

Beberapa bab dari Talmud Babilonia telah dicetak pad tahun 144, sedangkan edsi selengkapnya dari Talmud ini  diterbitkan di Venezia sekitar tahun 1520-1523. Naskah yang dicetak di Bazel terbit di bawah pengawasan gereja Katolik dan mengalami banyak revisi dan koreksi. Sementara naskah Talmud terbitanAmsterdam tahun 1644-1648, tidak banyak mengalami perubahan walaupun tunduk pada pengawasan gereja Katolik. Talmud yang paling orisinil adalah  edisi Romanyang dicetak di Wilno pada tahun 1886 sebanyak 20 jilid. Edisi paling mewah dari Talmud Babilonia adalah terbitan Stack, tahun 1912, berasal dari naskah yang dipersiapkan di Munich pada pertengahan abad ke 14.

Redaksi Ensiklopedia Umum Yahudi menjelaskan: “Penyebab tiadanya manuskrip asli dari Talmud Babilonia itu adalah fanatisme ekstrim gereje Kristen pada abad pertengahan yang sering melakukan pembakaran missal berpuluh gerobak yang berisikan kitab Talmud atau manuskripnya”.Terjemaha Talmud Babionia yang asli pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Soncino, London. Abraham Cohin telah menerjemahkan kitab Beracoth di Inggris pada tahun 1921. Edisi ringkasan Talmud Babilonia ini telah terbit dalam berbagai bahasa seperti Latin, Perancis, Italia, Rusia, Yiddi dan bahasa-bahasa lainnya. Edisi baru Talmud Babilonia merangkum artikel-artikel pendek yang dimasukkan dalam bagian terakhir bab ke IV (Nizikin). Talmud ini terdiri dari 2,5 juta kata, sepertiga bagiannya berisi Haggadah, sedangkan sisanya adalah Hallakhah (Hukum-hukum). (Artikel ini adalah terjemahan dari buku Talmud Tarikhuhu wa Ta’alimuhu karangan Zhafrul Islam Khan yang dicetak di Beirut tahun 1972).

Talmud merupakan Kitab Undang-undang  bagi  bangsa  Yahudi. Buku  ini terdiri dari banyak jilid dan amat mahal harganya. Satu set lengkap dari buku  ini  berharga  mulai  dari  yang paling murah US $ 1.200.- sampai US $ 5.000.- setiap setnya, dan tergantung dari edisi penerbitannya. Para  Rabbi  Yahudi menghabiskan   seluruh   waktu  hidupnya  untuk  memperdalam mempelajari Talmud ini. Tak seorangpun dapat dikatakan mahir atau  ahli dalam filsafat Yahudi kecuali ia mengetahui benar tentang isi Talmud. Beberapa tahun yang  lalu  Kolonel  E.N. Sanctuary    dari   Dinas   Intelligensi   Militer   Amerika menyediakan dirinya untuk mempelajari  Talmud  ini.  Kolonel Sanctuary  adalah  seorang patriot dan Nasrani tanpa celaan. Ia menerbitkan suatu  ringkasan  dalam  bentuk  buku  dengan judul  "Terbukalah  kedok  Talmud"  (The  Talmud  Unmasked).

Jilid-jilid dari buku ini pun menjadi bahan koleksi dan yang amat   sukar  diperoleh.   Berikut   di  bawah  ini  adalah bagian-bagian terbaik dari tulisan Sanctuary yang  merupakan kutipan-kutipan  dari  halaman-halaman yang sudah jelas atau pasti referensinya. Memang  disadari  bahwa  kutipan-kutipan ini  amat  singkat, akan tetapi hendaklah dapat dipergunakan oleh para pelajar (pembahas)  yang  tekun  dan  patuh  dalam menghadapi  fakta-fakta  yang kalau tanpa kutipan ini mereka akan menjadi tidak mengetahui sama sekali.

 
Penyingkatan ini dilakukan atas petunjuk dari Pendeta Gerald L.K.  Smith  oleh  Pendeta Michael Mountjoy, seorang anggota staf dari Pendeta Smith tersebut.

Enam Bagian Utama Dari Talmud

1. ZERAIM.  Tentang  biji-bijian.  Bagian  ini  membicarakan biji-bijian, buah-buahan, daun-daunan, tumbuh-tumbuhan; baik dalam penggunaan umum ataupun domestik  tentang  buah-buahan dan lain-lain.

2. MOED. Tentang pesta-pesta (Festival-festival). Bagian ini membicarakan tentang waktu  kapankah  perayaan  Sabbath  dan perayaan-perayaan lainnya dimulai, diakhiri dan diperingati.

3.  NASCHIM. Tentang wanita. Bagian ini membicarakan tentang perkawinan  dan  penolakan  isteri  (penyangkalan   terhadap isteri),  tugas-tugas  mereka,  pertalian  kekeluargaan  dan penyakit-penyakit .

4.  NEZIKIM:   Tentang   kerusakan-kerusakan.   Bagian   ini membicarakan  tentang kerusakan-kerusakan yang diderita oleh manusia dan  binatang;  hukuman-hukumannya  dan  penggantian rugnya.

5.  KODASCHIM. Tentang kesucian. Upacara-upacara kurban, dan bermacam upacara suci keagamaan.

6. TOHOROTH. Tentang pembersihan.  Bagian  ini  membicarakan tentang  tanah  (untuk satru) dan membersihkan tempat-tempat (wadah-wadah),  alas  tilam  (sarung  bantal,   seprei   dan lain-lain) serta barang-barang lainnya.
Setiap  bagian  dari keenam bagian di atas dibagi lagi dalam bentuk buku-buku   atau   risalah-risalah   yang   disebut MASSIKOTH, dan buku-buku yang dibagi dalam beberapa bab atau PERAKIM.

ZERAIM terdiri dari 11 buku,  MOED  terdiri  dari  12  buku; NASCHIM  terdiri  dari 7 buku; NEZIKIM terdiri dari 10 buku; KODASHIM terdiri dari 11 buku dan TOHOROTH terdiri  dari  12 buku (jilid).

TALMUD TERDIRI DARI 63 BUKU DALAM 524 BAB

Beberapa catatan penting dapat dibaca pada:

Hal. 20:
"Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya dan Kitab Suci Talmud".

Hal. 21:
"Pada tahun 533 Kaisar Justinianus (527-565) melarang penyebaran buku-buku Talmud di segenap wilayah Kekaisaran Romawi. Dalam abad ke-15 Sri Paus Gregorius IX (1227-1241) dan Paus Innoventius IV (1243-1254) mengutuk buku-buku Talmud karena berisi segala bentuk kekejian dan penghinaan terhadap kebenaran Kekristenan (every kind of vileness and blasphemy against Christian truth) dan memerintahkan supaya dibakar karena buku-buku itu menyebarkan banyak bid'ah-bid'ah yang membahayakan."

Hal. 22: 
"Cetakan pertama penerbitan Talmud yang lengkap diterbitkan di Venesia pada tahun 1520. Dalam sebuah Muktamar Gereja di Polandia pada tahun 1613 para Rabbi dari Jerman mengumumkan tidak boleh menerbitkan apa-apa yang menjengkelkan kaum Kristen dan menyebabkan pengejaran terhadap Israel. Walaupun demikian Talmud diterbitkan di Holland pada tahun 1644-48".

 


YESUS  DALAM TALMUD

Hal. 28 dan 29: 
"Dalam Talmud, Kristus disebut OTHO ISCH = "That Man." "Seseorang anak disebut sebagai seorang Kristen kalau ia mengikuti ajaran-ajaran palsu dari "orang itu" ... (ABHODAH ZARAH).  AKUM dari Maimonides (Rabbi Mozes ben Maimun, kelahiran Kordova, Spanyol; 1135-1204) menunjukkan kenyataan bahwa terlaranglah untuk ikut serta dalam pesta-pesta Kristen dari Natal dan Paskah, karena pesta-pesta ini memperingati TALUI, seseorang yang dihukum gantung".

Hal. 30: 
"Talmud mengajarkan bahwa Kristus adalah anak tak sah dan berada dalam kandungan ketika waktu haid (was conceived during menstruation) bahwa dia adalah seorang edan/pandir, pembaca mantera, penggoda, dan bahwa Kristus disalibkan dan dikuburkan dalam neraka."

Hal. 31: 
"Siti Maryam disebut STADA, sebagai seorang pelacur karena ia meninggalkan suaminya dan melakukan perzinaan."

Hal. 34: 
"Kemudian Yesus menyerukan NAMA ALLAH dan terus menyebutnya hingga datanglah angin yang mengangkatnya antara bumi dan langit. Yudas juga menyatakan NAMA AGUNG DARI ALLAH dan begitu juga diangkat oleh angin. Kemudian Yudas mengucapkan nama Tuhan dan mengambil Yesus dan mendorong Yesus ke bawah, yaitu ke bumi. Yesus lalu mencoba untuk berbuat yang sama terhadap Yudas dan mereka berdua pun akhirnya berkelahi. Dan ketika Yudas mengetahui bahwa ia tidak dapat memenangkan Yesus maka ia mengencingi Yesus dan kedua-duanya yang tidak suci lagi itu akhirnya jatuh ke bumi; juga tidak dapatlah lagi mereka menggunakan nama suci Allah lagi sampai mereka mensucikan diri sendiri." (And when Yudas saw he could not win over the works of Yesus he pissed on Yesus and both being unclean fell to earth; nor could they use the Divine name again until they had washed themselves)." Apakah mereka yang percaya akan kebohongan yang jahat itu patut menerima kebencian ataupun belas- kasihan yang lebih besar, tak dapatlah saya katakan apa-apa.

Hal. 35: 
"Dalam buku SANHEDRIN (107 b) kita membaca : MAR berkata: Yesus menggoda secara membujuk, mengkorup dan merusakkan Israel."

Hal. 36: 
"Buku ZOHAR III menceritakan bahwa Yesus mati seperti binatang dan dikuburkan dalam onggokan yang begitu kotor di mana mereka melemparkan bangkai-bangkai anjing dan keledai, dan dimana putera-putera Esau (yaitu orang-orang Kristen) dan Ismail (orang-orang Turki), yaitu mereka yang najis dan tidak disunat, dikubur seperti bangkai anjing."

Hal. 39: 
"Tidak diizinkan (= diharamkan) untuk tunduk atau angkat topi di depan para raja atau pendeta yang mengenakan salib pada pakaian mereka. Haruslah diperhatikan jangan sampai kelihatan kalau tidak dapat melakukan seperti ini.Umpama seseorang dapat/boleh melemparkan beberapa keping mata uang logam di atas tanah, kemudian membongkok untuk mengambilnya sebelum dilalui mereka. Dalam hal seperti ini maka diperbolehkan untuk membongkok atau mengangkat topi di depan mereka."

Hal. 40: 
"Suatu hukum tertulis dari orang-orang Nasrani ialah "Kalau seorang Yahudi memukulmu pada sebuah pipi, palingkanlah yang lainnya juga" (Saya tidak pernah melihat orang Kristen mematuhi hukum ini, begitu pun Yesus sendiri tidak melakukannya. Saya mendapatkan pada KITAB PERBUATAN RASUL-RASUL XXIll, ayat 3, bahwa Imam Besar memerintahkan mereka yang berdiri di dekatnya untuk menampar mulutnya, Paulus tidak memalingkan pipinya yang lain; ia mengutuk. Hal ini bertentangan terhadap kepercayaan mereka dan merusak dasar-dasar atau azas dimana Agama mereka itu ditegakkan.



NAMA - NAMA YANG DIBERIKAN UNTUK KAUM NASRANI/KRISTEN  DALAM TALMUD

Hal. 42: 
"ABHODAH ZARAH, Penyembahan yang aneh, pemujaan berhala. Para penyembah berhala. Rabbi AKIBAH mengatakan : Bagaimanakah kita tahu bahwa ABHODAH ZARAH, seperti seorang wanita yang najis, kemudian mengotori mereka yang percaya padanya? Karena YESAYA berkata : Engkau akan melemparkan mereka seperti kain pembersih haid, dan akan Engkau katakan, Jadilah seperti itu sejak waktu itu."

Hal. 43: 
AKUM, Penyembah bintang-bintang dan planit-planit. OBHDE ELILIM, para pelayan berhala. Ini mempunyai arti yang sangat seperti AKUM. MINIM, orang-orang yang menyimpang dari ajaran agamanya. Dalam Talmud mereka yang mengikuti ajaran yang disebut Gospel adalah orang-orang yang menyimpang dari ajaran agama. EDOM-EDOMITES.

Hal. 44: 
"GOI - Ras atau bangsa. Hampir senantiasa yang dimaksud adalah orang-orang bukan Yahudi dan para penyembah berhala. NOKHRIM - pendatang atau orang asing. AMME HAARETS - penduduk bumi, atau orang yang bodoh."

Hal. 45: 
"BASAR VEDAM - daging dan darah; jasmaniah manusia yang sudah pasti akan mengalami kehancuran; yang tidak bisa mempunyai perjamuan dengan Tuhan."

Hal. 47: 
"Seorang Yahudi tidak boleh mengassosiasikan dirinya dengan orang-orang bukan Yahudi, karena mereka ini diperuntukkan untuk ditumpahkan darahnya."

Hal. 48: 
"Mengapakah COIM itu tidak suci? Karena mereka memakan barang-barang yang dibenci (yang jijik dan memakan binatang yang merayap pada perutnya."

Hal. 49: 
"Seorang wanita haruslah mencuci kembali dirinya kalau ia melihat apa-apa yang tidak suci, seperti anjing, keledai, atau People of the earth; seorang Kristen, seekor onta, seekor babi, seekor kuda atau orang yang berpenyakit kusta."

Hal. 50: 
"Tuhan menciptakan mereka dalam bentuk manusia demi kemenangan/keunggulan Bangsa Israel. Akan tetapi AKUM diciptakan untuk tujuan tunggalnya yang terakhir untuk mengabdi kepada Bangsa Israel siang dan malam."

Hal. 51: 
"Hubungan sex dari kaum GOI seperti halnya pada binatang." "Kalau hanya kaum menyembah berhala saja yang mengadakan hubungan sex, maka dunia ini tidak akan untuk selamanya. Karena mereka melahirkan  bayi-bayi sama halnya seperti anjing."

Hal. 52: 
"Mereka adalah anak-anak dari ular dahulu kala yang menggoda Siti Hawa."

Hal. 53: 
"Yang lebih terdahulu dari Ibrahim menyuruh ia duduk pada pintu gerbang Gehenna dan menjaga jangan sampai (mencegah) siapa saja orang-orang yang disunat untuk masuk ke dalamnya; akan tetapi semua orang yang tidak disunat akan masuk ke bawah, ke dalam neraka." "Juga orang-orang Kristen tidak perlu untuk dihindari selama tujuh hari setelah mereka mengubur seseorang, seperti tersebut dalam Hukum Musa; karena mereka itu bukanlah orang dan karena penguburan hewan tidaklah menodai manusia."

Hal. 55: 
"Dilarang untuk berdiri di naungan suatu kuil / kelenteng, baik di dalam maupun di luarnya untuk jarak 4 cubits (kira-kira 2 meter) dari pintu depan. Tidaklah dilarang untuk berdiri dalam naungan (bayangan) belakang gereja. Juga tuduhan ini tidak dilarang untuk kita kalau gereja itu didirikan di suatu tempat yang dahulunya ada jalan umum, yang diambil dari rakyat dan kuil itu didirikan di atasnya."

Hal. 57: 
"Sembahyang mereka adalah kebodohan dan pelanggaran peraturan. Hari Natal merupakan hari bencana mereka. ... mereka benar-benar tidak berguna dan jahat."

 

ORANG-ORANG NASRANI/KRISTEN HARUS DIJAUHI

Hal. 60: 
"Karena mereka tidak berguna sama sekali untuk ambil bagian dalam kehidupan orang Yahudi. Mereka itu najis. Mereka adalah penyembah berhala. Mereka adalah pembunuh. Barang siapa memukul seorang Israel, sebenarnya seolah-olah ia menampar muka Tuhan Yang Maha Suci dan Agung. Hanya orang Yahudilah yang dipandang sebagamanusia : Seisi dunia ini semuanya untuknya dasegala sesuatu haruslah melayaninya terutama 'binatang' yang berbentuk orang."

Hal. 61: 
"Seorang Yahudi tidaklah harus memberi hormat kepada seorang Kristen. Seorang Yahudi tidak harus menghadap ke muka seorang Hakim Kristen. Seorang Kristen tidak boleh dipakai sebagai saksi.Seorang GOI atau pelayan tidak akan mampu untuk bertindak sebagai saksi."

Hal. 62: 
"Para sesepuh Yahudi (The Elders) melarang memakan roti orang AKUM, jangan sampai dilihat seolah-olah bersahabat dengan mereka."

Hal. 64: 
"Tidak diizinkan untuk menjual air kepada AKUM kalau diketahui bahwa hal itu akan dijadikan untuk air membaptis."

Hal. 66: 
"Seorang anak tidak boleh dikirim kepada AKUM untuk diajari akhlak, kesusasteraan atau kesenian,  karena mereka akan mengarahkan ke arah bid'ah saja. Pertolongan kesehatan dapat diterima dari semua pihak kecuali dari para penyembah berhala, orang yang berzinah dan pembunuh."
 


ORANG-ORANG NASRANI/KRISTEN HARUS DIMUSNAHKAN

Hal. 68: 
"Mereka yang berbuat baik kepada AKUM tidak akan dibangkitkan dari matinya."

Hal. 69: 
"Janganlah kamu berikan hormat apa-apa kepada  mereka; karena dilarang untuk mengatakan betapa baiknya GOI itu. Berhala-berhala mereka haruslah dihancurkan, atau sebutlah dengan nama-nama yang merendahkan."

Hal. 70: 
"Sebuah Gereja Kristen tidaklah disebut BETH HATTEFILLAH - rumah sembahyang, akan tetapi BETH HATTIFLAH, rumah orang suka berlagak atau dipuji atau Rumah Dosa. Korban-korban (sesajen) kaum Kristen disebut Sesajen Kotoran (tahi)."

Hal. 71: 
"Dilarang mengajarkan suatu ilmu pertukangan / kepandaian kepada AKUM."

Hal. 72: 
"Orang Kristen tidak perlu diberitahu kalau mereka membayar kelebihan (terlalu banyak) kepada seorang Yahudi. Orang Kristen boleh ditipu."

Hal. 73: 
"Seorang Yahudi dibenarkan untuk berpura-pura  Kristen untuk menipu orang-orang Kristen. Seorang Yahudi dibenarkan untuk mempraktekkan riba yang tinggi terhadap orang Kristen.Seorang Yahudi dibenarkan untuk membohongi danbersumpah palsu agar dihukumnya seorang Kristen".

Hal. 75: 
"Seorang Kristen yang sakit tidak boleh ditolong. Seorang wanita Kristen yang akan melahirkan anak tidak boleh ditolong. Seorang Kristen yang dalam keadaan bahaya kematian tidak boleh ditolong." 


ORANG-ORANG NASRANI/KRISTEN HARUS DIBUNUH

Hal. 77: 
"Seorang Kristen yang kedapatan mempelajari Hukum Israel dapat diganjar kematian (dihukum mati)."

Hal. 80: 
"Jelaslah bahwa penawanan kita akan berakhir sampai para penguasa (Raja-raja) dari orang-orang yang bukan Yahudi yang menyembah berhala dihancurkan." Kerajaan (kekuasaan) yang berpusat di kota Roma ialah satu-satunya yang amat dibenci dari semuanya oleh orang-orang Yahudi."

_____________________________
Sumber :

1. Talmud wa Suhyuniyyah, oleh As’ad Zaruq, Kairo, maktab albahts, 1970, hal.87

2. Kaum Pharisi adalah suatu sekte Yahudi yang lahir menjelang kedatangan nabi Isa u, dikenal sebagai kelompok yang sangat taat melaksanakan tata cara (ritus) dan upacara keagamaan berdasarkan undang-undang tertulis (Taurat) dan diketahui sebagai kaum yang sangat memaksakan keyakinannya tentang keshahihan (validitas) penafsiran (Undang-Undang Lisan) mereka berkenaan dengan hokum-hukum.

3. Jelas sekali apa yang disebut oleh Musa ben Maimun (Maimonides) bahwa para ulama Yahudi belum pernah sepakat tentang masalah ini.

4. Kanzul Marshud fi Qawaid Talmud, hal.1:29

5. (Hakhom) D.A. Fabian, The Babylonian Talmud, hal 5

6. Tanna’im artinya “Guru”, gelar yang diberikan khusus bagi ulama bangsa Yahudi setelah kematian Hillel dan Shamai, yaitu pada tahun ke 10 SM sampai menginggalnya Judah Hanasi, sekitar tahun 200 M. Jumlah ulama Tannaim mencapai 200 orang ulama Yahudi, sebagian besar bergelar Hakhom yang juga berarti guru atau orang bijak. Jika seorang ilmuan Yahudi itu menjabat sebagai Paderi di kuil mereka, maka ia diberi gelar Rabbi yang berarti guru kita. Sementara Amoraim berasal dari kata Amar yang artinya “Berbicara”, sebutan ini diberikan kepada para penafsir atau pembicara.

7. Strack Herman L, Introduction to the Talmud and Midrsah, Philadelphia, 1945, hal.4

8. Kraus, Samuel, Dr. The Mishnah Treatise Sanhedrin, Leiden, 1909 (Semitic Studies Serie-XI), hal V-VI

9. Kraus, Samuel, Dr. The Mishnah Treatise Sanhedrin, Leiden, 1909 (Semitic Studies Serie-XI), hal VII

10. Sesuai dengan pernyataan readktur Ensiklopedia Umum Yahudi, Dr. Joseph Barkley dalam bukunya “Kesusastraan Ibrani”: “Saat ditulisnya Talmud Jerussalem dan Babilonia, bangsa Yahudi berada dalam kondisi damai (Comparative Peace). Sejak wafatnya Hakhom Yudah yang suci sampai dengan dinobakatkannya Konstantin sebagai raja (Romawi), biara Thabariyah tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk ataupun tekanan-tekanan”. (hal.12)

11. Jelas sekali bahwa Talmud Jerussalem saat ini masih tetap ada, tapi dalam keadaan semrawut, sementara Talmud Babilonia menderita banyak kekurangan. Untuk kalangan Yahudi sendiri tetap digunakan Talmud yang asli seperti yang diterbitkan di Venezia.

12. Lahir di Babilonia pada tahun 175 M dan wafat pada tahun 247 Masehi

13. Lihat The Babylonian Talmud, karya Dr.  Fabian, hal.7

14. Sejarah Terjadinya dan Perkembangannya Serta Hal-hal yang Bersangkutan Prof. H.S. Tharick Chehab Penerbit MUTIARA JakartaJln. Salemba Tengah 38, Jakarta INDONESIA
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

BUKU TAMU

Buku Tamu
Recommended Post Slide Out For Blogger
 
Copyright © PRA BENCANA KEDATANGAN DAJJAL
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube