Headlines News :
"JIHAD Menegakkan TAUHID, Membela Sunnah RASUL ALLAH, Hancurkan SYIRIK, Musnahkan BID'AH, Terapkan SYARI'AT ALLAH, Berantas KEMUNGKARAN dan KEMAKSIATAN," Tegaknya AGAMA ini haruslah dengan Kitab (AL QUR'AN DAN SUNNAH) Sebagai Petunjuk dan Sebagai Penolong. Kitab menjelaskan apa-apa yang diperintahkan dan apa-apa yang dilarang ALLAH, Pedang atau Pena menolong dan membelanya ".(Nasehat Berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahumullah)

Widget by KaraokeBatak
Home » , » Perbuatan Syirik-kah Ruwatan Itu?

Perbuatan Syirik-kah Ruwatan Itu?

Written By Dedi E Kusmayadi on 13 Agustus, 2013 | Selasa, Agustus 13, 2013

Ruwatan, mungkin kita sering mendengar kata tersebut ketika seseorang ketiban sial terus. Ada sebagian orang lari pada paranormal atau dukun untuk mengunakan jasanya. Ongkosnya cukup terjangkau oleh kaum ekonomi menengah. Dimulai dari Rp 950 ribu dan bisa sangat besar. Apa itu ruwatan?

Pengertian ruwatan dalam bahasa Jawa Kuno, ruwat berarti lebur (melebur) atau membuang. Ruwatan adalah salah satu cara untuk melepaskan diri dari dominasi energi negatif yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Sengkala atau Sukerta. Orang yang diruwat adalah orang yang ingin mengikis energi negatif (kesialan) berupa sengkala atau sukerta yang melekat pada dirinya, atau suka dianggap sebagai efek dari dosa dan kesalahan.

Paranormal Bambang Yuwono menjelaskan apabila seseorang mengidap sengkala atau sukerta akibat murka Dewa Batharakala terhadap dirinya, maka tanda-tanda yang langsung dirasakan oleh orang yang bersangkutan adalah sulit mendapat rejeki, kerja selalu salah, berdagang rugi, jodoh sulit, rumah tangga ricuh, sakit-sakitan dan sebagainya.

Dikatakan oleh paranormal yang biasa meruwat bahwa secara supranatural orang tersebut memiliki aura yang redup dan tidak stabil, oleh sebab itu tahap awal orang tersebut (karuwat) perlu diselaraskan auranya, oleh orang yang memiliki aura lebih kuat dan mampu menyalurkan tenaga inti dalam dirinya (pengruwat) untuk membangkitkan potensi diri dari sang karuwat.

Selanjutnya sang karuwat perlu mendapat nasehat (sugesti) dari pengruwat tentang cara memperbaiki diri dalam kehidupan yang berupa perilaku, tutur sapa, moral etika, agar dapat menjaga diri atau membendung datangnya sengkala dan sukerta. Sedangkan jenis-jenis dari ruwatan itu sendiri antara lain:


1. Ruwatan Sukerta
Adalah pangruwatan bagi anak yang terlahir sebagai anak tunggal (ontang-anting), dua bersaudara lelaki semua (uger-uger lawang), dua bersaudara perempuan semua (kembang sepasang), tiga bersaudara satu perempuan ditengah (sedang kapit pancuran) dan lain sebagainya, yang pada dasarnya ruwatan ini bersifat permohonan agar anak tersebut selanjutnya mendapat keselamatan dan kebahagiaan di masa depannya. Tapi permohonan ini ditujukan kepada jin, atau ditujukan kepada Allah, tapi dengan cara mengikuti musuh Allah.


2. Ruwatan Sengkala

 
Ruwatan bagi orang yang dalam perjalanan hidupnya mendapat hambatan dalam rejeki, karier, jodoh, serta kesehatannya. Termasuk di dalamnya adalah bagi pasangan suami istri yang mendapat gangguan dalam kehidupan pernikahannya oleh kehadiran orang ketiga atau godaan-godaan lainnya.


 

3. Ruwatan Lembaga
 Adalah pengruwatan untuk kesuksesan suatu lembaga atau organisasi usaha, maupun ruwatan untuk Negara.

Ada yang melakukan ruwatan agar seseorang terhindar dari kutukan Dewa Batharakala tuhannya agama Hindu yang mempunyai sifat jahat. Jelas ini termasuk perbuatan yang sama sekali tidak di anjurkan dalam Islam kepada Allah Swt, sebab tidak ada ilah yang berkuasa melainkan Allah. Karena Allah telah berfirman : “Sekiranya ada langit dan bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiyaa [21]: 22)

Mempercayai adanya kesialan akibat pertanda pada tubuh, tanggal lahir, urutan kelahiran, tanda-tanda alam dan semacamnya berarti melakukan tathayyur dan ini merupakan bentuk kesesatan.

Dari Imran bin Hushain ra, ia berkata : “Rasulullah Saw bersabda: ‘Bukan termasuk golonan kami meminta tathayyur (menentukan nasib sial berdasarkan tanda-tanda benda, burung dan lain-lain), yang meramal atau yang meminta diramalkan, yang menyihir atau yang meminta disihirkan dan barangsiapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang ia katakana, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad Saw,” (HR. Al-Bazzaar dengan sanad yang bagus).
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
PRA BENCANA KEDATANGAN DAJJAL • All Rights Reserved
    Twitter Facebook Google Plus Vimeo Videosmall Flickr YouTube